Seputar Hilangnya Penulis Buku ”Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie?”

Ali Azhar Akbar

Surabaya, Sergap – Penulis buku berjudul ‘Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie?’, Ali Azhar Akbar, keberadannya sampai saat berita ini ditulis masih menyisakan misteri. Kondisi ini mengingatkan kita saat zaman Orde Baru, banyak aktivis yang tiba-tiba hilang tanpa diketahui kabar beritanya.

Buku ”Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie”, merupakan buku kedua Akbar tentang Lapindo. Buku pertamanya berjudul “Konspirasi Di Balik Lumpur Lapindo: Dari Aktor Hingga Strategi Kotor”.  Buku setebal 449 halaman dengan cover sosok SBY-Bakrie ini, memang berisi banyak data dan informasi yang belum tersampaikan ke publik. Pada sekapur sirih dari penulisnya dikatakan bahwa analisis buku ini menitikberatkan pada proses  pembuatan kebijakan dan siapa yang diuntungkan dari kebijakan menanggulangi semburan lumpur. Itulah sebabnya penulis terpaksa mentranskrip rekaman ”Ekslusif di Istana Cikeas”.

Profil ringkas tentang dirinya, yang tertulis pada buku Konspirasi SBY-Bakrie, ia adalah seorang pegiat HAM yang memiliki kepedulian terhadap persoalan-persoalan lingkungan. Lelaki kelahiran Jakarta 31 Agustus 1961 merupakan lulusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studinya pada Pendidikan Lanjutan Bidang Hukum Minyak dan Gas Bumi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Abdul Hakim G. Nusantara adalah orang pertama yang memperkenalkan wawasan lingkungan hidup kapadanya  Pernah mengikuti kursus Dasar AMDAL dan Kursus Penyusunan AMDAL di Pusat Lingkungan  Hidup Universitas Gadjah Mada serta manajemen Lingkungan di jurusan Teknik Lingkungan ITB. Juga pernah mengikuti pelatihan di E-LAW (Environmental Law Alliance Worldwide) US di Eugene, Oregon. Akbar juga pernah aktif di WALHI, aktif sebagai relawan di E-LAW, juga Mosaic Institue sebagai penggiat advokasi Kebijakan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan.  Suami dari Sulistyowati dan bapak dari dua anak: Allende G.A. Azhar dan Che-Quevara A. Azhar ini, juga memiliki berbagai pengalaman penelitian mengenai lingkungan.

Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Usman Hamid, mengatakan, setidaknya tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam kasus orang hilang. “Pertama profil orang hilang itu. Kedua kegiatan terakhir orang tersebut sebelum hilang adalah faktor kunci. Ketiga kabar hilangnya seseorang harus diusut secepat mungkin, mengapa bisa demikian,” kata Usman kepada wartawan, Rabu (27/6/2012).

Usman menjelaskan, dua item saja sudah bisa digunakan untuk menduga adanya ketidakwajaran atas hilangnya Ali. Menurutnya, bisa jadi

Usman Hamid

orang tersebut sedang disiksa dan masih hidup. Di luar itu, aparat penegak hukum harus bertindak sigab dengan catatan-catatan itu.

Dia juga meminta kepada keluarga Ali membuat laporan resmi. Laporan tersebut bisa dilakukan kepada Kepolisian maupun lembaga lain yang berwenang, seperti Komnas HAM.

“Keluarga juga bisa memulai membuat petisi kepada pejabat pemerintah agar mencari dan menemukan nasib dan keberadaan Ali,” ujarnya. Apabila upaya keluarga menemui jalan buntu, maka bisa dilakukan dengan menggalang dukungan masyarakat. Terlebih lagi saat ini era digital bisa dilakukan melalui jejaring sosial.

Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Andy Irfan Junaidi, memastikan bahwa akan melakukan penyelidikan terhadap Ali Azhar Akbar. Kami mendapat laporan melalui telepon dari penerbit buku Indopetra Publishing atas raibnya Ali,” katanya Selasa, (26/6/12).

Andy mengatakan sejak Jumat pekan lalu, Kontras terus mencari tahu kebenaran raibnya Ali Akbar apakah benar diculik dan apakah terkait dengan aktivitasnya selama ini. Menurut Andy, selama di Jawa Timur Ali tergabung dalam Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL) yang juga diprakarsai oleh pakar ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya, Tjuk Kasturi Sukiadi, pengasuh pondok pesantren di Jombang Gus Sholah (Sholahuddin Wahid) dan Letjen Purnawirawan (Marinir) Suharto.

Bersama Tjuk K. Sukiadi dan Suharto, Ali Azhar Akbar, Selasa, 29 Mei 2012, mengajukan permohonan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Ketiganya mempersoalkan Pasal 18 Undang-Undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) yang memberikan alokasi anggaran negara untuk penanganan lumpur Lapindo beberapa pekan lalu.

Dijelaskan oleh Andy, bahwa Ali Azhar Akbar yang lulusan Institut Teknologi Bandung itu juga pernah aktif di jaringan Perguruan Rakyat Merdeka (PRM). Bapak tiga anak itu beberapa kali datang untuk mengikuti diskusi PRM Jawa Timur. Andy menuturkan Kontras telah melakukan komunikasi dengan teman dekat Ali di Jawa Timur, di antaranya Gus Sholah dan Tjuk Sukiadi. Penjelasan yang diperoleh dari Tjuk, dia sudah beberapa hari ini tidak bisa melakukan kontak dengan Ali. Gus Sholah bahkan mengatakan baru mengetahui raibnya Ali dari media.

Meski Ali adalah penulis skandal Lapindo, banyak aktivis lembaga swadaya masyarakat dan korban Lapindo di Porong tidak mengenalnya. “Kami tahu dia tapi tidak mengenalnya terlalu dekat,” kata pendamping korban lumpur Lapindo, Paring Waluyo Utomo.

Raibnya Ali Azhar Akbar baru diketahui ketika dia yang sedianya datang sebagai pembicara dalam acara bedah buku tersebut di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (22/6/2012). Namun, saat para pembicara diskusi naik ke atas panggung, Ali tidak nampak.

Buku Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie?

Direktur Indopetro Publishing yang menerbitkan buku itu, Kusairi, mengatakan,”Kami tidak bisa menghubungi Ali Azhar sejak tiga hari yang lalu. Mohon maaf dia tidak bisa datang”. Dia pun bercerita bahwa pertemuan terakhir kali dengan Ali Azhar adalah pada Jumat pekan lalu di Mahkamah Konstitusi. Saat itu mereka tengah mengajukan permohonan judicial review atas pasal 18 UU APBNP mengenai lumpur Lapindo. Ali Azhar mengatakan, bahwa dia sudah berada di Bandung pada hari Selasa (19/6/2012).

Kusairi mengirim pesan singkat (SMS) meminta kepastian pada Ali mengenai acara diskusi tapi tidak ada balasan. Keesokan harinya, dia kembali mengirim pesan singkat tapi hasilnya juga sama. Begitu ditelepon ternyata telepon selulernya tidak aktif.

Kusairi pun mulai menyadari ada yang tidak beres. Sewaktu bertanya kepada keluarganya maupun temannya, jawabannya juga tidak tahu. Kejadian ini membuat Kusairi mengkhawatirkan keselamatan penulis buku mengenai Lumpur Lapindo. Dia pun mengungkapkan bahwa sepanjang penyusunan hingga peluncuran buku, penulis kerap diteror.

Dua bedah buku yang dilakukan di Jakarta maupun Yogyakarta berjalan dengan lancar dan Ali Azhar bisa hadir, saat di Bandung inilah dia menghilang. Menurut rencana, diskusi berikutnya digelar di Surabaya atau Medan.

Sementara itu M. Taufik Budiman, pengacara Ali Azhar Akbar, mengatakan bahwa pihaknya meminta perlindungan keamanan kepada Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo.  “Siapa tahu setelah mendepatkan perlindungan, Mas Ali mau keluar dari persembunyian,” ujar pengacara Ali Azhar, M. Taufik Budiman, Selasa, 26 Juni 2012.

Taufik mengatakan, pihaknya berasumsi dua hal mengenai menghilangnya Ali Azhar. Pertama, Ali memang dihilangkan paksa. Kedua, Ali bersembunyi karena takut menghadapi ancaman. Menurut Taufik, Ali kerap mendapatkan telepon dan pesan pendek yang berisi ancaman dan teror. Ia berharap Ali tidak benar-benar diculik. Setelah mendapatkan jaminan keamanan, Taufik berharap Ali mau menghubungi dirinya.

M. Taufik Budiman

Taufik menuturkan, awalnya ia berencana meminta perlindungan ke Badan Reserse Kriminal Polri untuk meminta perlindungan. “Namun bareskrim menyarankan langsung ke Kapolri,” ujar Taufik. Kemudian, sore tadi ia menyerahkan sejumlah berkas kepada Kapolri.

Sebagaimana dilansir oleh mi.com, Ali Azhar Akbar, merupakan kunci dari judicial review (uji materi) terhadap Pasal 18 UU Nomor 4 Tahun 2012 tentang APBN-P 2012 yang mengatur upaya penanggulangan lumpur Lapindo. Pasal tersebut sudah sidangkan untuk pertama kali oleh Mahkamah Konstitusi pada Jumat (15/6) lalu.

“Kami meminta Mas Ali untuk hadir (dalam uji materi) karena tim membutuhkan Mas Ali,” kata kuasa hukum Ali Azhar Akbar, M Taufik Budiman dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/6).

Ia mengatakan memang dari awal uji materi diajukan sudah ada suara pro dan kontra. “Padahal pengajuan ini bukan dimaksudkan kepentingan yang lain,” kata Taufik.

Ia juga mengatakan sebagian data yang dicantumkan dalam buku yang ditulis oleh Pak Ali, semburan lumpur lapindo adalah operational default, bukan bencana alam. Hal ini tentu berbeda dengan penetapan pemerintah yang menyatakan semburan lumpur Sidoarjo merupakan bencana alam.

“Yang kita inginkan adalah meluruskan dari sisi hukum. Sementara data-data buku yang asli dipegang Ali Azhar Akbar,” katanya. Taufik mengatakan tim penggugat UU APBN-P 2012 sebenarnya sering berkomunikasi dengan Ali Azhar. Namun, komunikasi selalu dalam konteks uji materi. “Komunikasi ini sebenarnya hal yang biasa dalam konteks penanganan perkara untuk menyempurnakan materi gugatan ke MK,” ujarnya.

Ali Azhar Akbar dikabarkan menghilang sejak Jumat, 22 Juni 2012. Namun Taufik baru meminta perlindungan hari ini karena ia mengira Ali sedang berlibur akhir pekan. “Biasanya kalau hari libur kan tidak mau diganggu,” ujar Taufik. Namun sampai hari ini belum ada kabar dari kliennya. Taufik lantas memutuskan meminta perlindungan.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution ketika dihubungi tempo.co mengaku belum mengetahui permintaan perlindungan keamanan itu. Namun jika ternyata benar ada permintaan, polisi akan mempelajari terlebih dahulu permasalahanya. Setelah itu menentukan siapa yang akan memberikan perlindungan keamanan. “Bisa Polda, Polres, atau Polsek,” ujar Saud.

Berita tentang menghilangnya Ali Azhar Akbar sudah tersebar melalui status-status di jejaring sosial. Kemanakah ia? Menghilang atau dihilangkan? Ingatan tentang orang-orang yang pernah dihilangkan pada masa Orde Baru berkelebatan dalam kepala. Setidaknya tercatat masih 13 orang yang belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.  (tim/micom/okezone/kompas.com/tempo.co)

2 thoughts on “Seputar Hilangnya Penulis Buku ”Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s