Ratu Tipu Sensasional dari Surabaya

Elizabeth Susanti

Surabaya, Sergap  – Perempuan sering dianggap sebagai makhluk lemah. Namun fakta membuktikan makin banyak saja perempuan-perempuan kita yang menjadi tersangka dan terpidana tindak kejahatan. Yang populer saat ini , misalnya Miranda Gultom, Angelina Sondakh, Neneng Sri Wahyuni.

Di Surabaya mencuat di media nama Elizabeth Susanti alias Santi yang dijuluki Ratu Tipu karena saking banyaknya korban yang dirugikan karena ulahnya.  Salah satunya penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang saat ini kasusnya sedang disidangkan di PN Surabaya.

Majelis hakim PN Surabaya yang diketuai Ronius menjatuhkan hukuman 18 bulan penjara karena terbukti melakukan penipuan. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Wayan Wahyudistira menuntutnya dengan penjara selama dua tahun. “Terdakwa terbukti melakukan penipuan sebagaimana diatur dalam pasal 378 KUHP,” ucap Ronius. Dengan telah jatuhnya vonis ini, maka total hukuman yang harus dijalaninya menjadi 40 bulan.

Seleksi CPNS Tanpa Tes

Dalam perkara yang ketiga ini, Santi dilaporkan telah melakukan penipuan dengan modus yang sama yakni penipuan CPNS. Kali ini Santi dilaporkan oleh Arief Nurman, orangtua Ira Ratnasari dan Santi Handayani, dua pendaftar CPNS. Arief mengenal Santi dari Samiran. Pada Juni 2009 Samiran bertemu Arief Nurman di Rumah Makan Adem Ayem, Gubeng.  Saat itu Samiran mengungkapkan ada lowongan CPNS tanpa tes.

Beberapa menit kemudian Santi datang dan meyakinkan Arief bahwa tes CPNS ini dibackingi para pejabat pemprov. Untuk meyakinkan Arief, Elizabeth “Untuk meyakinkan korbannya, terdakwa berpura-pura menelepon Rasiyo di hadapan korban. Terdakwa juga mengaku sebagai anak angkat Gus Dur,” tambah Ronius.

Syarat untuk bisa mendaftar seleksi CPNS tanpa tes ini antara lain menyerahkan daftar riwayat hidup, lamaran pekerjaan, foto 3 x 4 tiga lembar, foto 4 x 5 tiga lembar, SKCK, surat keterangan sehat, bersih dari narkoba. Arief juga diminta menyerahkan uang Rp 45 juta per pendaftar dan tanda jadi Rp 20 juta.

Syarat-syarat ini, diakui Santi dalam berkasnya berasal dari Tumbar yang kini belum tertangkap. Santi juga mengakui bahwa Tumbar mendapat instruksi dari pejabat itu untuk mencari orang yang mau dimasukkan sebagai CPNS tanpa tes. Dan pembicaraan ini dibenarlkan saksi Ahmad Zainul Naim. ”Terdakwa yakin jika apa yang diucapkan Tumbar tersebut benar karena Tumbar dekat dengan pejabat ini dan perkenalan dengan tumbar juga di rumah pejabat ini,” terang Ronius.

Setelah mendapat penjelasan Santi, Arief Nurman akhirnya menyerahkan uang Rp 118 juta. Dirinci, untuk uang muka Ira Ratnasari dan Santio Handayani masing-masing Rp 20 juta, pengambilan SK masing-masing Rp 10 juta dan membayar ke Badan Kepegawaian Daerah masing-masing Rp 1 juta.

Selain untuk membayar uang muka dan pengambilan SK Syaiful Mujab Rp 41 juta serta biaya tambahan Ira Ratnasari, Santi Handayani dan Syaiful Mujab masing-masing Rp 5 juta. ”Syaiful Mujab adalah keponakan Arief Nursyam yang didaftarkan ke Santi setelah kedua anaknya mendapatkan SK,” terangnya.

Vonis tersebut adalah yang ketiga kalinya. Untuk tiga kasus yang sudah diputus hakim, hukumannya berjumlah tiga tahun penjara. Kasus pertama, dia divonis 10 bulan penjara dan kasus kedua divonis 12 bulan penjara. Vonis terakhir imi, 18 bulan penjara dan masih menyisakan dua perkara penipuan CPNS juga belum selesai.

Gunadi Handoko

Ancam Akan Lapor KPK

Kasus penipuan dengan pelaku utama Elizabeth Susanti ini sempat penuh sensasi yang tidak jelas jluntrung kebenarannya. Misalnya pada tanggal 8 Maret 2012, melalui pengacaranya Gunadi Handoko, S.H.,MM.,MHum melakukan konferensi pers di Taman Apsari Surabaya yang dihadiri oleh puluhan wartawan dari media elektronik, media online maupun media cetak. “Kami Tim pengacara yang akan mendampingi Elizabeth Susanti nantinya akan mengungkap beberapa fakta yang mungkin selama ini belum terungkap. Tidak akan ada yang ditutup-tutupi,” paparnya di hadapan para wartawan saat itu.

Dikatakan oleh Gunadi Handoko, bahwa kliennya selama ini telah merasa dibohongi dan diberi janji-janji palsu. Menurut versi Elizabeth yang disampaikan oleh Gunadi bahwa sebetulnya saat itu Rasiyo sanggup mengembalikan dana Rp. 1,5 milyar asalkan Elizabeth mencabut tuntutannya kepada Sekdaprov Jatim tersebut.

“Namun kenyataannya, hingga saat ini janji itu belum terealisasi belum dipenuhi. Itulah yang membuat klien kami jengkel dan merasa ditipu,” ungkap Gunadi Handoko.

Saat itu Gunadi mengatakan, “Kami sedang menyiapkan data-data keterlibatan para pejabat Pemprov dan Partai Demokrat guna pelaporan kasus ini pada KPK. Klien kami merasa dikorbankan oleh Rasio Sekdaprov Jatim dan Hartoyo Ketua Bidang OKK Partai Demokrat”.  Dikatakannya juga bahwa juga kliennya pada tahun 2007 hingga 2009 adalah Asisten Pribadi Anas Urbaningrum.

Lebih lanjut Gunadi bersama timnya menjelaskan, atas permintaan klien, kami siap buka-bukaan. Silahkan bagi yang mau melaporkan klien kami karena dituduh terlibat dalam kasus ini, kami telah memiliki buktinya. Bahkan klien kami juga siap jadi saksi yang meringankan bagi Nazarudin, karena yang membeli tiket ke Singapura adalah Elizabeth Susanti. Bukan hanya beli tiket tapi, Santi tahu segalanya tentang kasus Wisma Atlit.

“Menurut klien kami, dirinya tahu segalanya tentang kasus Nazarudin karena dirinya saat itu menjadi Asisten Pribadi (Aspri) Anas Urbaningrum” jelas Gunadi.

“Selain itu, kami masih mengumpulkan data keterlibatan Sekda Prov Rasio dan petinggi Partai Demokrat lainnya. Intinya Elizabeth tidak mau dijadikan kambing hitam sendirian, dia minta keadilan. Siapa saja yang terlibat hendaknya juga diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku” papar Gunadi.

Coba Bunuh Diri

Ulah Elizabeth bukan sekedar itu, namun pada 28 April 2012 ia juga melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menenggak enam butir pil pereda sakit merk Ponstan di blok tahanannya di Rutan Kelas I Medaeng. Upaya bunuh diri itu gagal, setelah satu jam pil itu tidak bereaksi.

Wanita asal Jl. Oro-Oro Pacar Keling Surabaya itu hanya merasakan pening di kepalanya, namun kesadarannya masih normal. Karena tidak berhasil dia akhirnya melaporkan hal itu ke petugas. Petugas lalu berupaya menyelamatkannya dengan memberikan pertolongan medis.

Sebelumnya Elizabeth juga mencoba bunuh diri dengan menenggak cairan pencuci toilet. Namun nyawanya terselamatkan setelah diberi pertolongan medis petugas rutan Medaeng.

Mengaku Hamil

Elizabeth juga pernah mengaku hamil namun tidak mau menyebutkan pria yang menghamili. Menanggapi perihal kehamilan Elizabeth ini, Kepala Rutan Kelas I-A Medaeng saat itu, Agus Irianto mengakui jika ikhwal kehamilan Elizabeth ini hanya berdasarkan surat pernyataan yang ditulisnya beberapa hari lalu.

Secara medis, Agus Irianto masih belum bisa dipertanggungjawabkan karena yang bersangkutan hingga kini enggan diperiksa tim medis Rutan Medaeng. Meski pihak rutan sudah mencoba untuk merayu Elizabeth supaya mau dites kehamilannya oleh dokter rutan, yang bersangkutan tetap tak bergeming.

Bahkan, Elizabeth pernah membikin repot Kejari Surabaya karena kabur saat pelimpahan tahap dua. Setelah dua minggu baru ketangkap di Jakarta.

Yang jelas Elizabeth Susanti, wanita berusia 37 tahun itu telah merugikan banyak orang dan membuat berang banyak pejabat. Sebuah fenomena yang mungkin baru di negeri kita. (tim)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s