Tanah Sengketa Jadi Milik Toko Mas Sumberjaya?

Kediri, Sergap – Hampir seluruh kota di Indonesia memiliki Kawasan Pecinan yang memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina. Hal ini sesuai dengan tipikal kota-kota Jawa pada masa kolonial ditinjau dari tata ruang dan bangunannya terdiri atas alun-alun, masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan kampung Cina (Pecinan).

Berlokasi di Jalan Monginsidi, Pakelan Kota Kediri

Di Kota Kediri, Pecinan itu terletak di jalan Yos Sudarso (dulu jalan Klenteng), jalan Brawijaya, jalan Dhoho sisi barat, jalan Dr. Wahidin, jalan Kyai Mojo, jalan Monginsidi, jalan Trunojoyo, jalan Untung Suropati. Daerah ini masuk dalam Kelurahan Pakelan dan Ringinanom, Kecamatan Kota.

Sampai saat ini masih tersisa bangunan-bangunan dengan ciri khas arsitektur Cina. Jalan Monginsidi yang berada di wilayah Kelurahan Pakelan, adalah salah satu pusat perdagangan ramai di Kota Kediri pada sampai dengan ± tahun 1975-an. Karena di jalan inilah dulu lokasi Pasar Pon, yaitu pasar yang menjual barang-barang yang berbahan baku logam, mulai dari sepeda mainan anak-anak sampai dengan onderdil sepeda motor dan mobil. Berbagai alat pertanian seperti arit, cangkul dan sebagainya. Sekarang Pasar Pon itu tinggal kenangan, karena pasar logam ini dpindah ke Pasar Setonobetek. Hanya pedagang-pedagang kecil saja yang berpindah dan saat ini mereka hanya menjual barang-barang onderdil bekas (loakan) saja.

Soewito tidak menikah.

Di masa kejayaan Pecinan Kota Kediri, Kelurahan Pakelan adalah sentra bisnis yang penting dengan ciri khas perdagangan barang komoditas yang terbuat dari logam. Tak heran jika tak jauh dari perempatan jalan Monginsidi dan Trunojoyo terdapat sebuah bengkel bubut logam yang terkenal. Yaitu “Bingkil Las, Bubut dan Contsruksi Pakelan” yang terletak di jalan Monginsidi Nomor 38 Kota Kediri. Pada papan namanya tertulis bengkel itu mempunyai surat ijin bernomor : 1 tertanggal 8 Januari 1968.

Bengkel itu dimiliki oleh Liem Swie Lian alias Soewito. Kesuksesan Soewito dalam mengelola bengkel konstruksinya masih tampak saat ini, berupa bangunan rumah megah dan masih nampak kokoh sampai sekarang. Gedung tempat tinggal yang di halaman digunakan sebagai bengkel ini, berdiri di atas tanah seluas ± 1.600 meter persegi.

Sayangnya, gedung megah beserta isinya itu, saat ini dalam sengketa yang melibatkan beberapa pihak yang secara tidak langsung, patut diduga juga melibatkan Sigit Santoso, pengusaha emas ternama di Kota Kediri, pemilik dari Toko Mas Sumberjaya.

Sengketa itu disebabkan, semasa hidupnya Soewito tidak menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan. Soewito hanya mempunyai satu saudara laki-laki bernama Liem Swie Gian alias Gunawan yang tinggal di Desa Kunjang Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri.

Gunawan yang meninggal pada tanggal 30 Nopember 2006 ini, hanya sekali menikah dengan Kamisih dan pasangan ini tidak dikarunia anak, sehingga mengangkat dua orang anak. Anak angkat pertama bernama Ririn Widiastuti yang merupakan anak dari pasangan suami istri Suraji dan Sri Widianti warga desa setempat yang diangakat sebagai anak pada saat usianya 6 tahun.  Sedangkan anak angkat kedua bernama Sasono Adi Nugroho yang ketika diangkat sebagai anak angkat masih berusia setahun.

Kita kembali ke kehidupan Soewito yang tinggal di bengkel dan rumah megahnya yang terletak di jalan Monginsidi nomor 38/40 Kelurahan Pakelan Kota Kediri. Soewito yang tidak pernah menikah ini,  tinggal bersama dengan karyawannya yang bernama Poniran (saat ini berusia 56 tahun), istri Poniran yang bernama Wijani dan pembantu rumah tangganya yang bernama Lasmini.

Poniran yang serakah.

Ketika Soewito meninggal pada tahun 1996, Poniran menjalankan usaha bengkel las, bubut dan kontruksi itu tanpa memberitahu/ijin dengan Gunawan yang merupakan saudara kandung satu-satunya dari almarhum.

Bahkan Poniran berniat jahat ingin menguasai harta kekayaan milik almarhum Soewito secara sepihak dengan cara yang tidak terpuji. Cara yang ditempuh Poniran inilah yang pada akhirnya menjadi asal-muasal sehingga terjadi sengketa di pangadilan yang sampai berita ini naik cetak, masih di tingkat kasasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia dan belum turun keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Niat jahat Poniran ini, dilatarbelakangi oleh jumlah harta peninggalan almarhum Soewito yang mengiurkan. Informasi yang Tabloid Sergap himpun, almarhum Soewito meninggalkan harta kekayaan yang terdiri dari :

  1. Bangunan rumah yang berdiri di atas tanah seluas ± 514 meterpersegi, dengan sertifikat HGU Nomor 671/Pakelan.
  2. Bangunan rumah di atas tanah seluas ± 1.115 meterpersegi, dengan sertifikat HGU nomor 671/Pakelan. Kedua rumah dan tanah ini berlokasi di jalan Monginsidi nomor 38/40 Kelurahan Pakelan Kota Kediri.
  3. Emas logam mulia seberat 7 kg, permata/berlian serta perhiasan yang ditaksir bernilai lebih dari Rp. 1,5 milyar, yang tersimpan di safe deposit sebuah bank swasta ternama di Kota Kediri.
  4. Dua mobil merk Datsun Nopol AG 2871 CB dan sedan Fiat Nopol AG 206 CA.
  5. Enam unit Mesin Bubut, senilai ± Rp. 300 juta.
  6. Satu unit mesin Las Listrik, senilai ± Rp. 50 juta.

Dengan harta kekayaan sebanyak itu, tak heran jika kemudian Poniran melakukan beberapa tindakan rekayasa yang wujudnya adalah pemalsuan surat-surat dan dokumen, demi untuk menguasai harta kekayaan yang jelas-jelas bukan menjadi haknya.

Poniran sebenarnya adalah anak dari pasangan Ketang dan Lasmini, sebagaimana diterangkan dalam duplikat Kutipan Akte Nikah Kecamatan Gurah Nomor : Km.06.14/PW.01/60/1977, tertanggal 26 Maret 1977. Namun karena tergiur oleh harta yang bukan haknya, maka Poniran pada tanggal 26 Juli 1996 meminta kepada Kepala Kelurahan Pakelan untuk dibuatkan Surat Keterangan bernomor :  112/61.07/1996, yang ia gunakan untuk mengajukan Akte Kelahiran atas namanya.

Mengaku anak kandung.

Menyusul surat pemohonan akte kelahirannya itu, Poniran juga mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri, agar Kantor Catatan Sipil Kota Kediri mencatat dalam rigisternya, bahwa almarhun Soewito pernah menikah dengan Lasmini di Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri.

Sebagaimana kita ketahui, Lasmini adalah ibu kandung Poniran yang juga bekerja di bengkel almarhum Soewito, sebagai pembantu rumah tangga.

Dengan cara yang culas itu, akhirnya Poniran pada tanggal 27 Agustus 1996 berhasil mendapatkan dua buah “dokumen sakti” dari Kantor Catatan Sipil Kota Kediri, yaitu Akta Perkawinan Nomor : 55/WNA.Pdt/1996 atas nama pasangan suami Soewito dan istri Lasmini dan Akte Kelahiran Nomor : 124/WNA.Pdt/1996 atas nama Poniran dengan orangtua Soewito dan Lasmini.

Untuk melengkapi kepalsuannya itu, Poniran juga mengajukan pembetulan Kutipan Akte Perkawinan atas nama dirinya sendiri dan istrinya Wijani. Dalam Akte Perkawinan hasil pembetulan itu nama ayah Poniran yang sebelumnya adalah Ketang diubah menjadi Soewito.

Merasa sudah lengkap, maka Poniran dan Wijani membawa dokumen-domumen “asli tapi palsu itu” kepada Notaris Tjahjo Indro Tanojo, SH untuk kemudian dibuatkan Akte Keterangan Hak Waris, yang menyatakan bahwa Poniran adalah ahli waris sah dari almarhum Soewito.

Poniran sang terpidana.

Melihat ulah Poniran seperti itu, maka Gunawan sebagai adik kandung Soewito tidak tinggal diam. Dia laporkan Poniran ke polisi dan Pengadilan Negeri Kota Kediri memutuskan bahwa Poniran bersalah dan menghukumnya dengan hukuman 3 bulan dengan masa percobaan selama 6 bulan, sebagaimana tercantum dalam putusan nomor : 29/Pid.s/1997/PN.Kediri tertanggal 16 Agustus 1997.

Namun Poniran yang sudah silau dengan harta peninggalan almarhum Soewito tidak kapok. Masih dalam status dihukum masa percobaan selama 6 bulan –masa hukuman percobaan Poniran baru habis pada 21 Pebruari 1998- Poniran melakukan perbuatan serupa lagi yaitu merekayasa surat dan dokumen.

Mengaku anak angkat.

Hanya 19 hari setelah divonis bersalah, Poniran sudah mengajukan lagi surat permohonan Pengangkatan Anak ke Pangadilan Negeri Kota Kediri. Jadi gagal mengaku sebagai anak kandung dan karena itu dia dihukum, Poniran berupaya lagi untuk mendapatkan pengakuan hukum bahwa dirinya adalah anak angkat almarhum Soewito.

Entah bagaimana caranya, permohonan Poniran diluluskan oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri. Keluarlah dua surat, yaitu Nomor : 84/Pdt.P/1997/PN.Kediri tertanggal 4 September 1997 yang mengabulkan permohonan Poniran sebagai anak angkat dan surat bernomor : 44/Pdt.P/PN.Kediri tertanggal 28 September 1998 yang memerintahkan Kantor Catatan Sipil Kota Kediri untuk membuat akte bahwa Poniran adalah anak angkat Soewito.

Surat dan akte inilah yang dipergunakan oleh Poniran untuk menguasai harta peninggalan almarhum Soewito yang diperkirakan jumlahnya mencapai Rp. 2 Milyar lebih.

Pada tanggal 30 Nopember 2006, Gunawan adik kadung Soewito, meninggal dunia. Anak-anak angkatnya yaitu, Sasono Adi Nugroho dan Ririn Widiastuti berupaya untuk melakukan musyawarah dengan Poniran, sehingga akhirnya pada tanggal 27 Nopember 2007 mereka menantangani surat perdamaian dengan kesepakatan bahwa hasil penjualan dari semua harta peninggalan almarhum Poniran, dibagi sama rata. Poniran 50% dan anak-anak Gunawan 50%.

Surat perjanjian itu bahkan diperkuat secara autentik di hadapan Notaris Dyah Proborini, SH dengan pembuatan Akta Perdamaian bernomor 13 tanggal 15 Nopember 2007.

Poniran buronan polisi.

Tetapi tampaknya Poniran telah dibalut oleh nafsu keserakahan. Semua uang hasil penjualan harta peninggalan almarhum Soewito itu dimilikinya sendiri. Dengan kata lain Poniran telah melanggar janji dan kesepakatan yang dibuat secara autentik di hadapan notaris. Karena itu kemudian (karena Gunawan sudah meninggal), maka Sasono Adi Nugroho dan Ririn Widiastuti, melaporkan perbuatan Poniran ini ke Polresta Kediri. Namun Poniran keburu menghilang tak tentu rimbanya.

Sehingga Polresta Kediri kemudian menetapkan Poniran sebagai buronan dengan memasukkannya dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan Nopol : DPO/19/VII/Resta Kediri, tertanggal 2 Juli 2008. Dan sampai dengan berita ini naik cetak, polisi belum menemukan di mana Poniran berada, dia hilang bak ditelan bumi.

Anehnya, 12 hari setelah Poniran dinyatakan secara resmi menjadi buronan polisi, justru terbit Akta Jual Beli tanah dan bangunan peninggalan almarhum Soewito, yang menerangkan bahwa bangunan dan tanah yang berlokasi di jalan Monginsidi nomor 38/40 ini telah dijual kepada Rudi Santoso.

Gugatan perdata.

Selain melaporkan ke polisi, Sasono Adi Nugroho dan Ririn Widiastuti juga menggugat secara perdata beberapa pihak yang dianggap telah merugikan orang tua mereka secara perdata ke Pangadilan Negeri Kota Kediri, pada 8 Juli 2008 dengan register perkara Nomor : 24/Pdt.G/2008/PN.Kdr, dan kasus perdata ini belum selesai.

Tetapi anehnya, tanah dan bangunan yang berlokasi di jalan Monginsidi nomor 38/40 itu, terus saja diperjualbelikan. Tabloid Sergap mendapatkan informasi bahwa pembeli selanjutnya adalah Sigit Santoso, pemilik Toko Mas Sumberjaya yang berada di jalan Sriwijaya Kelurahan Kemasan Kota Kediri.

Masih menurut sumber yang menolak namanya disebut itu, akte jual beli tersebut dibuat oleh Notaris Tossy Satyarto Satriayun, SH. Namun ketika dikonfirmasi tentang hal ini, notaris yang berkantor di Jl. Raya Banaran 27 Kota Kediri ini tidak pernah bisa ditemui di kantornya. Seorang stafnya memberikan kartu nama, tapi nomor seluler yang tertera ketika ditelpon tak diangkat. Sedangkan surat konfirmasi yang dikirim ke kantornya pada tanggal 15 Maret 2012, juga tidak dibalas.

Sigit Santoso yang misterius.

Sigit Santoso, pemilik Toko Mas Sumberjaya ketika dikirimi surat konfirmasi pada tanggal 17 Maret 2012. tetapi pada ± jam 13.00 hari itu juga, surat itu dikembalikan ke kantor redaksi Tabloid Sergap. Salah satu dari dua orang perempuan yang mengantar surat itu mengatakan, tidak ada orang yang namanya Sigit Santoso di Toko Mas Sumberjaya. “Saya disuruh mengembalikan surat ini, tidak ada nama ini”, kata perempuan yang berseragam kaos Toko Mas Sumberjaya warna merah tua itu sambil menyerahkan surat konfirmasi.

Di Jln Sriwijaya Kemasan Kota Kediri

Sungguh aneh bin ajaib. Padahal saat surat itu diserahkan satu jam sebelumnya ke Toko Sumberjaya, kemudian surat itu diserahkan oleh karyawan yang menerimanya kepada seorang lelaki yang duduk di meja yang terletak di belakang para karyawannya. Lelaki berperawakan langsing itu dengan berdiri menerima, membuka dan membaca surat konfirmasi bernomor 132.14/Sgp/III/2012 tersebut.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa surat dikembalikan setelah dibuka dan dibaca? Jika memang orang yang bernama Sigit Santoso tidak dikenal dan tidak ada di toko emas itu, mengapa tidak seketika itu juga dikembalikan kepada orang yang membawanya? Jika memang surat itu tidak diperuntukkan kepada dirinya, mengapa lelaki itu berani membuka dan membacanya? Jika dia memang Sigit Santoso, mengapa dia bersikap seolah-olah dia bukan Sigit Santoso?

Kasus harta peninggalan almarhum Soewito ini memang masih penuh misteri. Poniran yang masuk DPO hilang, entah bersembunyi atau disembunyikan di mana. Poniran yang hanya karyawan bengkel las, anak seorang pembantu rumah tangga sedemikian lihainya “bermain” di pengadilan. Sigit Santoso boss Toko Mas Sumberjaya, patut diduga juga mengaku bukan Sigit Santoso.

Lantas siapa sebenarnya aktor intelektual di balik “penggarongan” harta kekayaan senilai lebih dari Rp 2 Milyar itu. Tabloid Sergap akan terus berupaya untuk menginvestigasinya dan menyajikannya kepada pembaca setia. (Tkr)

Berita terkait :  

Sita Eksekusi Tanah dan Rumah di Jalan Monginsidi Kota Kediri    Akhir Sengketa Tanah Jalan Monginsidi Kediri, “Yang Penting Hak Milik Mbahe Bisa Kembali”

2 thoughts on “Tanah Sengketa Jadi Milik Toko Mas Sumberjaya?

  1. Ping-balik: Akhir Sengketa Tanah Jalan Monginsidi Kediri, “Yang Penting Hak Milik Mbahe Bisa Kembali” « TABLOID SERGAP

  2. Ping-balik: Sita Eksekusi Tanah dan Rumah di Jalan Monginsidi Kota Kediri | TABLOID SERGAP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s