Harta Gono-Gini Berujung Masalah

Titin Purwati

Titin Purwati

Kediri, Sergap – Setiap orang yang menikah menginginkan kehidupan rumah tangganya harmonis selamanya. Pasti tak ada yang membayangkan akan terjadinya perceraian. Namun kadang takdir tak dapat ditolak.

Gatot Sutrisno (47) dan Tintin Purwanti (44) adalah pasangan suami istri yang akhirnya harus menempuh perceraian, melalui sebuah sidang di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri, dengan dikeluarkannya Keputusan PA tertanggal 7 Juni 2004 No. 329/Pdt.G/2004/PA yang telah berkekuatan hukum tetap, disertai bukti Akta Cerai No. 936/AC/2004/PA.

Di dalam Keputusan PA tersebut juga tercantum keputusan yang mengikat tentang Harta Bersama (Gono-Gini), berupa sebidang tanah dan bangunan yang tercatat dengan persil No 51 Blok D1 Kohir 456, seluas + 120 m2 yang kepemilikannya tercatat dalam bentuk Akta Jual Beli atas nama sang suami Gatot Sutrisno.

Dalam surat pernyataan yang dicatatkan di Notaris Sudarti Budiono, SH, Gatot Sutrisno dan Titin Purwati sepakat bahwa Harta Gono-Gini tersebut akan dijual dengan harga Rp. 150 Juta dan hasilnya dibagi dua masing-masing menerima Rp. 75 Juta.

Belakangan, Harta Gono-Gini yang berada di  Desa Mlati, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, diketahui telah berpindahtangan secara sepihak yang dilakukan Gatot Sutrisno, mantan suami Tintin Purwati.

Karena lama tak mendapat kabar tentang sudah laku tidaknya tanah tersebut, maka suatu hari Titin menanyakannya kepada mantan suaminya itu. Alangkah terkejutnya Titin, ketika Gatot mengatakan bahwa Akta Jual Beli telah berpindahtangan kepada Sri Rahayu.

Tintin langsung menemui Sri Rahayu yang tinggal tak jauh dari tempat Gatot. Sri Rahayu memberitahukan bahwa Akta Jual Beli sudah di jadikan jaminan oleh Gatot Sutrisno untuk hutang uang secara bertahap hingga mencapai jumlah + Rp 33 juta.

“Saat bertemu dengan Sri, dia mengaku bahwa Akta Jual Beli ada padanya sebagai jaminan hutang sebesar Rp. 33 juta. Dan itu dilakukan oleh mantan suami saya tanpa sepengetahuan dan seijin saya”, jelas Tintin kepada Tabloid Sergap.

Selanjutnya Sri Rahayu juga menceritakan bahwa Akta Jual Beli tersebut dipindahkan kepemilikannya kepada tetangganya yang bernama Munir.

Karena merasa dirugikan, maka Titin Purwati melaporkan semuanya ini ke Kepolisian Sektor Mojo. Kepada polisi Titin juga sudah member keterangan bahwa dirinya dirugikan sebesar Rp. 75 juta, sebagaimana tercantum dalam Keputusan PA Kabupaten Kediri Nomor : 2773/Pdt.G/2013/PA.Kab.Kdr tentang Nilai Harta Bersama yang telah disepakati dalam putusan nomor 6 halaman 3.

Dalam proses mencari keadilan ini, pada tanggal 18 Desember 2013, Tintin sudah diperiksa oleh penyidik Polsek Mojo sebagai saksi pelapor dan dituangkan dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP), walaupun anehnya, Polsek Mojo tidak mengeluarkan Surat Laporan Kepolisian.

Pada tanggal 26 Desember 2013, Titin dipanggil Kepala Unit Reskrim dan AKP Mansur Kapolsek Mojo yang menyatakan, bahwa kasus ini tidak dapat diproses lebih lanjut karena tidak memenuhi usur pidana penggelapan.

Titin juga dipertemukan dengan Munir, dimana di situ dia diarahkan untuk berbagi atas tanah dan bangunan tersebut dengan Munir. Polsek Mojo tidak melakukan pemeriksaan kepada Sri Rahayu dan Munir.

Kepada Tabloid Sergap, Tintin menuturkan keinginannya untuk meminta haknya atas separuh dari harta tersebut kepada Gatot.  “Saya hanya menuntut  hak saja, terlepas  akta jual beli itu telah berpindahtangan sebanyak dua kali kepada Sri Rahayu kemudian ke Munir yang dilakukan mantan suami saya, semuanya saya serahkan ke pengacara saya, “ terang Tintin.

Selanjutnya, Titin mengadukan kasusnya ini ke Polresta Kediri. Dia berharap akan mendapatkan penyelesaian yang adil bagi dirinya. Maka pada tanggal 30 Desember 2013 yang lalu iapun mengirim surat secara resmi kepada Kapolresta Kediri AKBP Budhi Herdi Susianto.

Terkait hal itu, Kasat Reskrim Kediri Kota AKP Surono membenarkan bahwa Polres Kediri Kota sudah menerima pelimpahan kasus Titin Purwati dari Polsek Mojo. “Pengaduan dan pelimpahan masalah dari Polsek Mojo sudah saya terima, tapi kita masih lakukan lidik (penyelidikan, red) dulu. BAP sudah masuk di Polres Kediri Kota”, kata AKP Surono melalui telpon selulernya. (Dick/Bram)

Kapolda Jatim Perintahkan Siaga I

Polisi tampak melakukan oleh TKP

Polisi tampak melakukan oleh TKP

Malang (Sergap) – Dalam upaya untuk mempersempit ruang gerak pelaku peledakan ATM Bank Mandiri Karangploso, Kabupaten Malang, maka Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono memerintahkan seluruh jajaran Polda Jatim untuk memberlakukan Siaga I. “Semua sudah saya instruksikan Siaga 1, pasca ledakan ini,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono usai mendatangi lokasi kejadian, Kamis (9/1/2014) malam.

Kapolda juga menambahkan bahwa pihaknya telah meminta kepada Mabes Polri untuk mendukung pengungkapan identitas pelaku peladakan ini. “Kami meminta Mabes Polri memback up penyelidikan ini, agar dapat mempercepat pengungkapan identitas pelakunya” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan wartawan, Kapolda juga menjelaskan bahwa terkait dengan pengungkapan polisi masih intensif mempelajari rekaman CCTV yang sempat merekam pelakunya. “Masih dipelajari terus rekaman CCTV sempat merekam pelaku. Hasilnya nanti kita sebar ke masyarakat untuk membantu kami,” jawab mantan Kepala Korps Brimob Polri ini menjelaskan.

Polisi berhasil memutar ulang rekaman CCTV kejadian bom yang meledak di ATM Bank Mandiri Karangploso, Kabupaten Malang pada Kamis (9/1/2014) pukul 02.30 WIB. Dari rekaman CCTV diketahui bom berdaya ledak rendah itu diletakkan oleh dua orang pengendara motor.  Pelaku tampak datang dan dengan santai meletakkan sebuah barang yang diduga kontainer berisi bom tersebut dengan mengendarai motor matic. Mereka mengenakan helm sehingga wajah keduanya tak terekam kamera. Setelah meletakkan sebuah barang di dalam mesin ATM, pengendara motor itu meninggalkan lokasi kejadian.

Tanpa jeda waktu lama setelah pengendara motor pergi, lanjut dia, ledakan keras terjadi hingga menghancurkan ruang ATM. “Pelaku ini mengenakan helm, memakai kaos putih dan celana biru, dan tinggi badan sekitar 165 centimeter,” ungkapnya.

Polisi berhasil mendapatkan rekaman aktivitas pelaku dari CCTV BPR Sukorejo Makmur yang berada tepat di seberang jalan lokasi ATM Bank Mandiri. Dalam rekaman itu, mencatat ledakan terjadi sekitar pukul 02.16 Wib. Dalam rekaman juga terlihat hancurnya ruang ATM, termasuk pintu terlempar sejauh 1 meter. CCTV ATM Mandiri ikut terlempar beruntung masih bisa disita untuk diselidiki.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono membenarkan hal ini. Menurutnya, dari rekaman CCTV yang diamankan. “Rekaman CCTV sempat merekam aktivitas orang yang diduga ketika datang dan meletakkan bom,” ujarnya terpisah.

Polisi berhasil mendapatkan rekaman aktivitas pelaku dari CCTV BPR Sukorejo Makmur yang berada tepat di seberang jalan lokasi ATM Bank Mandiri. Dalam rekaman itu, mencatat ledakan terjadi sekitar pukul 02.16 Wib. Setiap detil rekaman CCTV, sedang dipelajari termasuk diketahui pengendara motor itu meninggalkan lokasi menuju arah Kota Batu itu. (tim)

Polres Malang, Segera Panggil Dosen Planologi ITN

AKBP Adi Deriyan Jayamarta, SIK

AKBP Adi Deriyan Jayamarta, SIK

Malang (Sergap) – Terkait dengan meninggalnya (maba) Jurusan Planologi Institut Tehnologi Nasional (ITN) Malang, Fikri Dolasmantya Surya, saat Orentasi Kemah Bakti Desa dan Temu Akrab di Kawasan Pantai Goa China di desa Sitiarjo Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang, Polres Malang telah memeriksa 102 dari total 114 maba.

Sementara itu, pemeriksaan kepada panitia Kemah Bakti Desa (KBD) Jurusan Planologi juga masih berlangsung. “Sekarang kita fokus menyelesaikan pemeriksaan pada panitia secepatnya. Kalau sudah selesai, baru kita undang dosen Planologi,” papar Adi.

Polres Malang tampaknya sudah menjadwalkan untuk memeriksa dosen Jurusan Planologi ITN Malang. Pemanggilan dilakukan jika pemeriksaan terhadap panitia selesai dilakukan.

Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, SIK, mengatakan, pemeriksaan kepada dosen pembimbing hingga kepala jurusan Planologi itu bertujuan untuk menelusuri keterlibatan mereka dalam kegiatan itu. “Sekaligus untuk mengetahui apakah ada kelalaian dari para dosen itu. Karena mereka juga ikut bertanggungjawab dalam kegiatan tersebut,” kata Adi, Kamis (19/12).

Ketika ditanyakan tentang kemungkinan pemanggilan Rektor ITN Malang, Kapolres yang mantan penyidik KPK ini menjawab, belum ada petunjuk yang mengarah pada pimpinan pergurun tinggi itu. “Kami melihat belum ada kepentingan memanggil Rektor, karena belum ada bukti yang mengarah ke situ,” ujar Adi.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Kapolres, bahwa pemeriksaan saksi–saksi dari maba dan panitia KBD itu adalah pemeriksaan yang berangkat dari bawah. Untuk panitia misalnya, penyidik meminta penjelasan mengenai ruang lingkup kegiatan dan tugas di kepanitiaan.

Foto-foto kekerasan dalam acara Kemah Bakti Desa dan Temu Akrab ITN Malang, yang diemailakn ke redaksi Tabloid Sergap

Foto-foto kekerasan dalam acara Kemah Bakti Desa dan Temu Akrab ITN Malang, yang diemailakn ke redaksi Tabloid Sergap

Jika pemeriksaan itu semua sudah selesai dilakukan, kepolisian masih membutuhkan keterangan saksi ahli pidana, ahli pendidikan dan ahli kesehatan forensik. Kemudian dilakukan gelar perkara di Polda Jatim melibatkan Divisi Profesi dan Keamanan, Inspektur Pengawas Daerah, Bidang Hukum, Direktur Kriminal Umum.

“Kalau semua berkas telah lengkap disertai pendapat ahli, tinggal dilaksanakan gelar perkara. Untuk memutuskan siapa yang paling bertanggungjawab untuk dijadikan tersangka. Kami akan secepatnya menyelesaikan pemeriksaan pada saksi – saksi, mungkin saja minggu depan sudah bisa gelar perkara,” pungkas Adi,” ungkap Adi.

Dipilihnya Polda Jatim untuk gelar perkara itu sekaligus sebagai pengawas internal. Agar bisa menilai apakah penanganan perkara sudah baik, sesuai prosedur dan professional. Sementara ini, polisi menjerat pelaku dengan pasal 359 KUHP yakni kelalaian yang menyebabkan kematian dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara. (en)

Berita terkait :  Polisi Selidiki Kematian Mahasiswa ITN Malang

Polisi Selidiki Kematian Mahasiswa ITN Malang

Fikri Dolasmantya Surya (alm)

Fikri Dolasmantya Surya (alm)

Malang (Sergap) – Kematian mahasiswa baru (maba), Jurusan Planologi Institut Tehnologi Nasional (ITN) Malang , yang berasal dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bernama Fikri Dolasmantya Surya, saat Orentasi Kemah Bakti Desa dan Temu Akrab di Kawasan Pantai Goa China di desa Sitiarjo Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang pada hari Sabtu tgl (13/10/13), banyak menuai kontroversi.

Banyak informasi yang masuk ke meja rekasi Tabloid Sergap, sangat bertolak belakang dengan yang disampaikan oleh Kepala Jurusan Planologi Ibnu Sasongko dan Hutomo, dua orang Dosen Pembina Mahasiswa mewakili ITN, pada hari Kamis, 14 Nopember 2013. Saat itu Ibnu Sasongko mengatakan, “Kegiatan KBD (Kemah Bakti Desa) dan Temu Akrab sudah tradisi Maba (mahasiswa baru, red) ITN Jurusan Planologi. Adapun tentang adanya kematian Fikri dianggap sebagai musibah yg bisa terjadi pada setiap orang,” ujarnya seakan tanpa beban.

Sasongko, mengatakan Fikri sudah banyak mendapatkan perlakuan khusus, dikarenakan postur tubuhnya yang gemuk, sehingga mudah terkena dehidrasi.  Saat acara pembersihan pantai dan naik bukit, Fikri mendapatkan perlakuan khusus boleh naik sepeda motor menuju lokasi.

Saat  tiba saat sampai di lokasi, almarhum Fikri tidak sadarkan diri sambil mendengkur (ngorok). Panitia membawanya Puskesmas Sumbermanjing Wetan. Karena dianggap sudah parah kemudian dirujuk ke RS Saiful Anwar Malang, namun jiwanya tidak tertolong lagi.

Sedangkan Hutomo, pembina mahasiswa, menambahkan, “Kita selaku dosen dan pembina tidak terlalu mencampuri aktifitas mahasiswa. Beda dengan OSIS, mahasiswa dianggap lebih dewasa.”katanya berdalih.

Sementara itu, beberapa teman Fikri menginformasikan bahwa pemberian air mineral hanya dua botol untuk 114 orang Maba. “Kami banyak yang menahan haus, karena satu orang hanya bisa meneguk satu sendok air mineral. Dan pada hari Jum’at malamnya (11/10/13) pada saat acara “take me out” terjadi skenario kekerasan terencana yang dilakukan oleh Fendem (senior keamanan).

Pelecehan seksual

Lebih Gila lagi, pada jam 02.00 dini hari saat dimana para Maba istirahat tidur di kemah, dibangunkan dengan paksa sambil ditendang dan diinjak oleh Fendem. Bahkan bagi Maba Putri, mengalami pelecehan seksual. Singkong dibentuk seperti alat kelamin laki-laki lalu disuruh mengelus dan harus di oral.

Sumber yang sama menambahkan, pernyataan almarhum Fikri yang akan melindungi teman-temannya dari kekerasan Fendem, membuat Fendem semakin brutal dan naik pitam. Para Fendem mengamankan Fikri ke balik tenda, sementara maba lainnya dipaksa untuk membelakanginya. Kemudian terdengar suara erangan kesakitan Fikri. Juga terdengar teriakan lantang, “Kalau kau mau mati, mati aja kau..Biar dikubur disini..”.

Sabtu setelah olah raga dan makan siang, dimulailah perjalanan naik bukit. Fikri yang kelelahan, hanya dianggap pura-pura, sehingga ia tidak sadarkan diri. Bergegas panitia membawa Fikri dengan pickup dan diduga almarhum meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Saiful Anwar Malang.

Memanggapi hal ini, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, SIK, mengaku kaget.  “Terima kasih informasinya. Pasti kalau memang dugaan seperti itu, Polres Malang akan membuka lagi kasusnya dan segera melakukan penyelidikan. Namun sebelum melakukan penyelidikan, kami akan mencari tahu kebenaran informasi tersebut. Jika terbukti dan benar ada, pasti akan kami tindak sesuai prosedur,” kata Kasatreskrim menjelaskan. (red/nen)

Empat Penari Bugil Asal Kediri Digrebek Polisi

Aksi penari di sebuah diskotek (illustrasi)

Aksi penari di sebuah diskotek (illustrasi)

Surabaya (Sergap) – Tarian telanjang atau striptease kini juga marak di Kota Pahlawan Surabaya. Beberapa pekan yang lalu petugas Polrestabes Surabaya menggerebek sebuah diskotek di kawasan Bubutan, Surabaya karena “menyajikan” tari bugil. Penggerebekan bermula dari informasi masyarakat.

“Penggerebekan dilakukan di salah satu tempat hiburan malam di Surabaya yang memang ada pertunjukan pornografi,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta, Kamis (24/10/2013).

Dari diskotek tersebut, polisi mengamankan D (31), warga Dusun Ngujung, Singosari, Malang. Polisi juga menggiring empat penari perempuan, berinisial  S (18), V (20), P (21), dan S (20), semuanya warga Kediri. Selain itu, seorang disk jockey (DJ) perempuan Dt (22) juga ikut dibawa petugas.

“Mereka ini melakukan pertunjukan dengan menanggalkan pakaian satu per satu hingga telanjang, termasuk DJnya juga telanjang,” tambahnya. Masing-masing pelaku memiliki peran dalam pesta tarian tersebut. D berperan sebagai pencari tamu untuk acara Live DJ.

“Anggota Satreskrim langsung melakukan penggerebekan lokasi dan memergoki para perempuan ini dalam keadaan telanjang bulat,” ungkapnya.

Dari hasil penggerebekan tersebut, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa peralatan DJ, CD berisi lagu-lagu remix, bra, bikini, celana dalam, satu hp BlackBerry dan uang Rp1 juta.

Selanjutnya, polisi masih mendalami kasus pergelaran tarian bugil tersebut. Jajaran Polrestabes Surabaya masih memburu seorang yang diduga kuat menjadi penyelenggara tarian telanjang tersebut.

“Pihak penyelenggara yang juga pemesan tempat di diskotek tersebut masih DPO (buron, masuk Daftar Pencarian Orang).  Sementara ini masih ada enam tersangka yang terlibat dalam pertunjukan tarian telanjang itu,” kata Kapolrestabes menambahkan.

Tentang modusnya, Kapolrestabes menjelaskan, awalnya ada seorang pelanggan diskotek yang memesan pertunjukan tarian telanjang kepada D (31), “Pemesan kemudian membayar sejumlah uang untuk pertunjukan tersebut,” ungkapnya.

Kapolrestabes mengungkapkan, pergelaran tarian telanjang tersebut tidak di bawah manajemen tempat hiburan itu. Para pelaku itu semacam event organizer (EO) dengan memesan tempat di lokasi hiburan malam. “Manajemen pihak hiburan malam tidak ikut. Seseorang yang memesan tempat itu dan masih buron,” sebut mantan Kapolres Sidoarjo itu.

Salah seorang penari bugil itu, V (20) nekat terjun ke dunia malam sebagai penari telanjang karena ingin memiliki banyak uang. Perempuan cantik asal Kabupaten Kediri  itu mendapat bayaran tinggi untuk sekali show bugil bersama tiga rekannya, S (18), P (21), dan S (20).

“Sudah dua kali kami menggelar pesta ini. Saya sendiri dapat bayaran Rp2,5 juta untuk sekali pertunjukan,” kata V kepada wartawan di Mapolrestabes Surabaya. Namun di acara kedua, porno aksi itu terendus petugas dan dilakukan penggrebekan.

Salah satu penyidik Polrestabes Surabaya mengungkapkan, di dalam ruang yang sangat terjaga privasinya itu, para pemesan tarian telanjang disuguhi gerakan-gerakan erotis sang penari. Namun, jika ada yang ingin beradegan ranjang, harus melakukan negoisasi kepada sang penari dan dilakukan di tempat lain.

Para pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pasal 29 jo Pasal 4 ayat 1 dan atau Pasal 35 jo Pasal 9 dan atau Pasal 34 jp Pasal 8, dengan ancaman kurungan maksimal 12 tahun. (ang)

Rektor UNIPA Ancam Polisikan Guru Pemalsu Ijazah

Surabaya (Sergap) – Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya akan melaporkan kepada polisi bila Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep tidak bertindak tegas, terhadap pemalsuan ijazah yang dilakukan oleh salah satu oknum guru dari kabupaten tersebut.

Ijazah yang dipalsu oleh guru berinisial J ini berasal dari Unipa. Hal itu diketahui ketika guru tersebut mengumpulkan berkas Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebagai syarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Unipa tahun ini, merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) penyelenggara PLPG Rayon 142.

Rektor Unipa Surabaya Drs. H. Sutijono, MM

Rektor Unipa Surabaya Drs. H. Sutijono, MM

Ketika proses verifikasi berkas dilakukan, ijazah S-1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari Unipa diketahui telah dipalsukan. “Panitia telah mendiskualifikasi guru itu, kami juga sudah menyurati Dinas Pendidikan  Sumenep terkait masalah ini. Diharapkan, Dinas Pendidikan setempat mendalami kasus tersebut, dan melaporkan kasus tersebut ke polisi,” kata Rektor Unipa Surabaya Drs. H. Sutijono, MM, Selasa (20/8/2013)

Jika Dinas Pendidikan tidak segera melakukan tindakan tegas dan tidak melaporkannya ke polisi, maka pihaknya yang akan melaporkan. Apalagi, guru bersangkutan mengaku menggunakan ijazah S-1 FKIP dari Unipa. Institusinya pun jelas merasa dirugikan dengan perbuatan tersebut. “Sementara ini kami masih menunggu tindakan konkret Dinas Pendidikan Sumenep,” ujarnya.

Diceritakan lebih lanjut oleh Rektor Unipa bahwa pihaknya pernah melaporkan kasus serupa pada 2008. Saat itu, juga ada salah seorang guru yang memalsukan ijazah dari Unipa. Setelah dilaporkan ke polisi, guru itupun disidang dan diputuskan hakim bersalah. Namun sayang, guru tersebut dijatuhi hukuman ringan, yaitu hanya tiga bulan. Alasannya, guru ini hanya menjadi korban. Dia pun kaget saat mengetahui guru pemakai ijazah palsu itu hanya dihukum ringan, padahal dia sudah melakukan kesalahan fatal.

Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), tambahnya, hukuman bagi guru itu seharusnya cukup berat. Bab XX Pasal 67 Ayat 1 disebutkan perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi tanpa hak dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1 miliar.

Sementara dalam Pasal 68 ayat 1 disebutkan, setiap orang yang membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500 juta.

Sedangkan pada ayat 2 disebutkan, setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500 juta.

“Kami berharap aturan ditegakan. Pemalsu atau pengguna ijazah palsu tersebut bisa dihukum sesuai dengan  UU Sisdiknas itu. Jadi, bisa memberikan efek jera agar tidak terulang kembali ditahun-tahun mendatang,” kata rector berharap.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemprov  Jatim Dr. Harun mengaku prihatin dengan adanya oknum guru yang melakukan tindakan pemalsuan ijazah. Dia mengatakan, tidak sepatutnya guru memalsukan atau menggunakan ijazah palsu. Hal itu jelas melanggar aturan dan harus dijatuhi sanksi yang tegas.

“Pemalsuan ini merupakan tindakan menyimpang yang jauh dari tujuan sertifikasi. Kami pun mengimbau kepada guru agar menaati aturan dengan tidak berbuat curang. Apalagi ini dunia pendidikan, tidak boleh ada kecurangan seperti itu,” jelasnya. (ang)

Merekrut Model Bugil Dada Montok, Anthony Abraham Dilaporkan Polisi

Website resmi Models1 : http://www.models1.co.uk

Website resmi Models1 : http://www.models1.co.uk

Surabaya (Sergap) – Models1, sebuah Agensi Model dari Inggris, melaporkan sebuah rekrutmen model bugil yang diduga penipuan, yang dilakukan Anthony Abraham (20) warga Citraland Surabaya. Syarat umum dari model yang dicari adalah model harus memiliki dada yang montok. Demikian dikatakan Edwin Saputra (32th), sebagai pihak yang mewakili Models1 kepada wartawan, Kamis (12/9/2013) usai melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim.

“Korban rata-rata berasal dari Batam, Surabaya, Jakarta, dan Medan. Jumlahnya puluhan yang saya bisa pantau. Models1 tidak pernah melakukan perekrutan model bugil yang akan dipekerjakan sebagai penari di sebuah kapal pesiar, sebagaimana disebarkan oleh AA melalui broadcast BBM,” kata Edwin menambahkan. Edwin tak ingin, para korban ini nantinya merasa dirugikan oleh pihak Models1. Padahal, lanjut Edwin, Models1 yakin tidak pernah melakukan perekrutan semacam ini.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, kasus ini masih dalam penyelidikan. “Sekarang kasusnya masih diproses di Fis Mondev Reskrimsus Polda Jatim,” tutur Awi.

Polisi serius mengusut kasus ini. Sang pelapor, Edwin Saputra, sudah diperiksa dan ditanya soal kasus oleh petugas Fiskal Moneter dan Devisa Reskrimsus Polda Jatim.Next

Edwin juga sudah menyerahkan semua barang bukti yang berhasil ia dapatkan dari terlapor Anthony Abraham. Seperti capture broadcast BBM yang disebar terlapor, transkrip email, dan foto-foto model sebagai korban.

Berikut isi email dan BBM yang diserahkan Edwin ke polisi: “Berikut saya jelaskan ketentuan ketentuan dalam audisi : 1. Model harus berani. 2. Model wajib mengikuti audisi yang sudah ditetapkan. 3. Model harus sexy dan memiliki dada montok. 4. Model harus selalu mengikuti setiap sesi. 5. Model wajib untuk hadir di acara ketika sudah tanda tangan kontrak dan diberi uang muka. 6. Model wajib mengirimkan sebanyak banyaknya foto untuk tahap audisi. 7. Model mendapatkan 2 free tiket untuk ikut selama event maupun di Bali.”

Email dan BBM selanjutnya : “Berikut saya jelaskan syarat foto yang harus dikirim untuk tahap audisi awal : 1. Tank top ketat tanpa bra. 2. Hot pants. 3. Bra. 4. Cd. 5. Bikini. 6. Lingerie. 7. Kemben. 8. Topless. 9. Nude. 10. Naughty pose. 11. Kain. 12. Swuimsuit. 13. Wet look. Untuk kriteria ini adalah foto yang harus dikirim. Dan foto bebas , tdk harus menggunakan fotografer atau foto studio. Camera bb/hp tidak masalah asal look sexy atau ada dikriteria.”

Dalam laporan polisi dengan nomer LPB/189/XI/2013/Sus/SPKT tertanggal 3 September, Anthony Abraham dilaporkan telah melanggar pasal menyebarkan berita elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan, pasal 27 ayat 1 junto pasal 45 ayat 1 UU RI nomer 11 tahun 2008 tentang ITE (Informasi Transaksi Elektronik).  (ang)

Kapolda Jatim Perintahkan Tindak Tegas Petasan

Polisi mengoperasi petasan

Polisi mengoperasi petasan

Surabaya (Sergap) – Setelah melarang organisasi masyarakat (ormas) melakukan razia selama Ramadhan 1434. Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur memerintahkan kepada seluruh jajaran Polres/Polsek se Jatim agar menindak tegas terhadap petasan alias mercon selama Ramadhan.

“Kapolda Jatim menginstruksikan dan memerintahkan kepada seluruh jajaran kepolisian di Jatim agar menindak tegas terhadap petasan di wilayahnya masing-masing,” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Awi Setiyono di Mapolda Jatim, Selasa (09/07/2013).

Dikatakannya, mercon adalah bahan ledak dengan isian amunisi sekitar 2 inci sampai 8 inci atau beratnya lebih dari 20 gram. Mercon yang dimaksud bukanlah bunga api yang memiliki isi amunisi di bawah 20 gram. “Karena seperti diketahui kalau penggunaan amunisi yang seperti ini wajib dengan izin resmi dari pihak kepolisian. Kecuali bunga api yang amunisinya masih kurang dari 20 gram, itu memang dijual bebas,” paparnya.

Bukan hanya membunyikan mercon saja, tapi termasuk penjualnya juga dilakukan tindakan. Untuk itulah, diimbau bagi masyarakat yang mengetahui home industri sekaligus pabrik petasan bisa lapor ke kantor polisi terdekat. “Kalau ada ditemukan pabrik atau home industri yang menjual petasan berlebihan segera untuk melaporkan kepada petugas kepolisian terdekat,”ujarnya.

Selain itu, Ketua RT sampai RW juga bisa menjaga lingkungannya dan jangan segan segan untuk melarang warganya jika ada yang membunyikan petasan atau mercon. “Mercon atau petasan tetap dilarang. Tapi kalau bunga api masih diperbolehkan. Untuk itu, sekali lagi anggota jangan ragu untuk menindak tegas terhadap siapa saja yang membunyi mercon,” tegasnya.

Ia menambahkan, target Jawa Timur bebas petasan atau mercon selama Ramadhan ini juga merupakan satu diantara upaya cipta kondisi selama bulan Ramadhan. “Kami ingin umat islam dalam menjalankan ibadahnya dengan tenang dan damai tanpa adanya suara petasan,” paparnya. (angga)

Ketegangan Warnai Pemakaman Bomber Mapolres Poso

Suasana pemakaman pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso

Suasana pemakaman pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso

Lamongan (Sergap) – Pemakaman Zainul Arifin (34th), pelaku peledakan bom bunuh diri Mapolres Poso, Sulawesi Tengah diwarnai dengan kedatangan sekelompok orang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki. Mereka mengenakan baju koko dan sebagian mengenakan rompi.

Mereka datang di  Lingkungan Semangu, Kelurahan Blimbing,  Kecamatan Paciran, Selasa (25/6/2013) menumpang dua kendaraan roda empat berpelat nomor Semarang (H) dan langsung memasang benner berukuran 2,5 x 1, 5  meter dengan menutup papan nama perguruan Muhammadiyah.

Pemasangan benner bergambar dua senjata jenis AK-4 yang bertuliskan huruf Arab kalimat tauhid dan ucapan Selamat Datang Mujahid Poso ini, ditentang oleh sebagian keluarga Zainul Arifin. Namun orang-orang berjenggot itu dengan muka garang, memaksakan untuk memasangan benner itu walau sempat ribut dengan keluarga almarhum Zainal Arifin.

Ada tiga benner yang dipasang, dua di antaranya bertuliskan, “Selamat datang jihad Poso”, “Mati satu tumbuh seribu” dan “Kami semua akan segera menyusulmu”.

”Sebenarnya keluarga tidak menginginkan itu , karena akan memanaskan suasana,”, kata Sis, yang mengaku sebagai adik Zainul Arifin kepada wartawan.

Massa dengan ciri khasnya ini juga seakan menunjukkan dirinya sebagai kelompok yang seolah paling bertanggungjawab dalam semua urusan menyambut kedatangan hingga proses pemakaman. Massa relawan ini kemudian lalu lalang di Jl Pendidikan, tempat kediaman Zainul Arifin.

Beberapa orang diantaranya dengan muka garang, menyisir keberadaan awak media massa dan menyruh wartawan keluar dari Jl Pendidikan. Mereka selanjutnya membentuk barisan yang saling bergandengan tangan memblokir pintu masuk Jl Pendidik yang berjarak dengan rumah duka sekitar 75 meter dengan terus meneriakkan kalimat tauhid dan takbir.

Mereka seolah tidak perduli dengan warga yang hendak masuk Jl Pendidikan, termasuk para awak media massa yang hendak masuk meliput. Salah seorang dari mereka berulang-ulang menginstruksikan tidak ada orang lain, kecuali mereka yang sudah ditunjuk untuk mengangkat dan mengusung jenazah dalam peti. ”Termasuk para wartawan nanti juga tidak boleh masuk,” kata orang berjenggot itu .

Pukul  10. 30 WIB, mobil ambulan yang mengangkut jenazah Zainul Arifin muncul dari arah barat. Kalimat takbir dan tauhid terdengar bertambah keras. Peti jenazah Zainul diturunkan dari ambulan dan langsung diusung oleh mereka ke rumah duka.

Sempat terjadi keributan antara massa berjenggot dengan warga yang melayat. Relawan menghadang dan mendorong semua orang yang ingin masuk ke Jl Pendidikan. Dan warga memilih mengalah setelah melihat kegarangan massa yang konon datang dari Semarang, Madura, Pekalongan, Bandung itu.

Setelah disemayamkan sekitar satu jam, jenazah lalu disolatkan di Masjid Darussalam dan orang yang dianggap tidak berkepentingan dilarang mendekat oleh massa berciri khusus itu. Saat jenazah diangkat dari peti dan dimasukkan ke liang lahat satu diantara mereka mengomando dengan lafal takbir. Setelah usai pemakaman, mereka membakar peti jenazah, tidak jauh dari situ.

Suasana tegang dalam pemakaman pelaku bom Mapolres Poso ini tak diduga sama sekali oleh warga sekitarnya. Toha Mansur, Kepala Kelurahan Blimbing mengaku tidak tahu menahu, perihal pemakaman tersebut. “Yang pasti tiap kampung ada kumpulan kematian yang bertugas mulai mengurusi masalah merawat jenasah. Namun dalam kasus ini saya tidak tahu,” terangnya. Kepala Kelurahan ini juga tidak bisa memastikan dari kelompok siapa yang mengatur pemakaman tersebut, yang pasti pihak kelurahan telah memberi ijin untuk menerima korban dimakamkan di pemakaman setempat.

Sekitar 100 orang personil polisi berseragam maupun tidak, telah dikerahkan guna mengamankan pemakaman bomber Mapolsek Poso tersebut.  Wakapolres Lamongan Kompol Yudistira yang berada di sekitar lokasi pemakaman mengatakan, pihaknya hanya melakukan pemantaun. “Kita selaku Polri sudah menyerahkan pada keluarga di Jakarta namun karena mereka meminta pengamanan ya kita bantu dari jauh,” ujarnya. (sule/ang)

Waspadalah, Premanisme Ala Adira Finance

Car Key with Leasing Tag on WhiteSurabaya (Sergap) – Satu lagi  kasus tentang debt collector yang bergaya preman terjadi. Kali ini dilakukan oleh perusahaan PT. Adira Finace. Kejadian bermula, ketika pada hari Jumat tanggal 26 April 2013 sekitar jam 18.00 WIB, di jl. Raya Candi Sidoarjo, ketika secara mendadak mobil Toyota Innova Nopol L 48 EL yang dikendarai oleh Haji Umar dihentikan secara paksa dengan cara dipotong kompas oleh sebuah mobil yang berisikan lima orang.

Mereka memaksa turun Haji Umar dan isterinya dan saat ditanya mereka mengaku sebagai jurusita dari PT Adira Finance yang ditugasi untuk mengambil mobil Innova tersebut. Karena tidak percaya, Haji Umar meminta kepada debt collector ini untuk ke kantor polisi terdekat dengan maksud mencari penyelesaian secara baik-baik, jika benar mereka adalah kolektor dari PT Adira Finance.

Namun usulan Haji Umar tak digubris, mereka mengarahkan mobil ke kantor PT Adira Finance terdekat. Haji Umar dengan terpaksa, karena tak bisa berbuat lain, akhirnya mengiyakan dan mengikuti para debt collector itu.

Namun ternyata kantor PT Adira Finance sudah tutup, mereka diarahkan ke gudang penyimpan dan mobil Innova itupun dibawa secara paksa. Sedangkan Haji Umar beserta istri  ditinggalkan begitu saja di kantor PT Adira Finance Sidoarjo, dan para kolektor pergi begitu saja, sementara mobil dibawa secara paksa.

Hanya terlambat 25 hari

Keesokan harinya, Nik Aimur Rohman pemilik mobil Toyota Innova Nopol L 48 EL, mendatangi kantor PT Adira Finance di jalan Kayoon Surabaya untuk meminta penjelasan perihal perampasan mobil yang dilakukan oleh para jurusitanya.

Rohman juga minta untuk dicek pembayaran angsurannya yang ternyata ternyata hanya telat 25 hari. Bukan hanya itu, sehari kemudian PT Adira Finance juga mengeluarkan Surat Keterangan Lelang terhadap mobil Toyota Innova Nopol L 48 EL atas nama Nik Amur Rohman tersebut.

Kepada Tabloid Sergap, dengan nada kesal dan marah Rohman mengatakan bahwa dirinya sebagai konsumen, belum mendapatkan solusi yang sepantasnya dari PT Adira Finance. Sebagai konsumen Rohman melihat bahwa PT Adira Finance tidak bisa melayani konsumennya dengan etika.

“Saya hanya terlambat 25 hari, mobil dirampas di tengah jalan, Abah saya ditinggalkan begitu saja. Adira tidak melayani memberikan solusi secara etis namun premanisme yang ditonjolkan dan tiba-tiba dengan seenaknya sendiri mobil saya akan dilelang”, kata Rohman.

Merasa diperlakukan tidak pantas, sore harinya Rohman selaku pemilik akan mengadukan hal ini ke Balai Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Tidak hanya itu, Rohman juga melapor ke Polres Sidoarjo, perihal perampasan dan tindakan tidak menyenangkan yang dialaminya. “Besok saya akan ke Polres Sidoarjo mengecek perkembangan penanganan kasus ini. Hal ini saya lakukan agar tidak terjadi peristiwa yang sama kepada konsumen yang lainnya”, tambah Rohman.

Tabloid Sergap mencoba mengkonfirmasi ke kantor PT Adira Finance, jalan Kayoon Surabaya pada Selasa, 7 Mei 2013, dan Eko, Manager Debt Collector membenarkan jika telah dilakukan penarikan terhadap mobil Toyota Innova Nopol L 48 EL tersebut. Namun untuk keterangan lainnya, Eko mengatakan tidak berwenang untuk memberikan keterangan. Sedangkan, staf maupun manager tidak ada yang bersedia menemui wartawan.

Salahuddin, Kasi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham Jawa Timur, pada bulan Oktober 2012 menengarai timbulnya keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh kreditur yang menggunakan jasa debt collector untuk mengambil secara paksa kendaraan debitur. “Padahal belum tentu kendaraan yang berstatus kredit itu telah didaftarkan Jaminan Fidusia,”ungkapnya.

Meski telah dilakukan pendaftaran Jaminan Fidusia, sebenarnya pihak leasing tidak bisa melakukan pengambilan secara paksa atau eksekusi jaminan tanpa melibatkan pihak Kepolisian. “Dalam aturanya, eksekusi jaminan itu harus melibatkan pihak Kepolisian bukan debt collector,”paparnya.

Semuanya itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu), tertanggal 7 Agustus 2012 yaitu : PERMEN_KEU_130PMK0102012_2012 (klik untuk mengunduh Permenkeu).

Pembelian barang dengan cara leasing, adalah sebuah kebutuhan nyata di masyarakat. Karena itu saat ini marak muncul perusahaan-perusahaan leasing, bak jamur di musim hujan. Masyarakat sebagai konsumen harus mewaspadai fenomena ini. Jangan hanya tergiur potongan harga dan hadiah-hadiahnya (door prize). Bacalah secara teliti, perjanjian leasing sebelum menandatanganinya, agar tidak terjebak dalam sebuah masalah yang tidak dipahami sebelumnya. Waspadalah !!! (ang/tkr)

Berita terkait : Debt Collector Tidak Bisa Lagi Lagi Sita Paksa Ranmor  -  Debt Collector Rampas Motor Masih Marak di Banyuwangi  -  Debt Collector Marak Rampas Motor, Dewan Segera Panggil Finance