Penipuan Model Baru Lewat Telepon. Waspadalah !!!

90 penipuan-via-telponKediri (Sergap) – Sebuah cara baru penipuan melalui telpon marak lagi, dengan menggunakan cara bari. Penipuan ini, sebagian besar dialami oleh pengguna kartu Telkomsel baik Simpati maupun Halo.

Pelaku yang awalnya menelepon secara acak ke nomor Telkomsel itu, akan mengaku sebagai teman lama saat sekolah, teman kerja. Ujung-ujungnya oknum tak bertanggungjawab itu berharapkan mendapatkan uang dari calon korban yang ditelepon secara acak itu.

Hal ini dialami oleh Bambang (bukan nama sebenarnya), warga Kelurahan Pandean, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Pria berusia 42 tahun ini pertama kali dari nomor Telkomsel yakni 081-282-434-999. Karena tidak merasa kenal dengan nomor itu calon korban tak mengangkat telepon itu dan dibiarkan saja.

“Saya ditelepon berkali-kali, karena merasa terganggu dan penasaran akhirnya saya terima telponnya. Dia langsung tahu nama saya dan mengaku sebagai teman sekolah saya saat di SMA”, kata Bambang, Rabu (2/7/2014).

Saat ditanya namanya, penelpon dengan tertawa berkata, “Masak lupa sama teman lama? Saya sekarang tinggal di Surabaya….”. Penelpon itu menanyakan tentang kesehatan keluarga Bambang dan sebagainya seperti pembicaraan teman yang lama tak bertemu. Namun saat sekali lagi ditanya siapa namanya, penelpon itu tetap tak mau menyebutkan, sambil selalu berkata, “Masak lupa sama teman lama….”.

Akhirnya Bambang menyebut saja nama teman SMAnya dulu, “Kamu Badu (bukan nama sebenarnya) ya….” Si penelpon itu langsung membenarkan, “Iya…masak lupa”. Tapi dalam hati Bambang mulai curiga, karena suara penelpon itu tidak sama dengan nama temannya yang bernama Badu.

Kemudian “Badu” bercerita bahwa sekarang dirinya bekerja di Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya. Di kantornya saat ini ada kendaraan bermotor illegal hasil tangkapan Bea Cukai yang akan segera dilelang.

Karena tidak membutuhkan barang-barang tersebut Bambang mengatakan, “Maaf saya tidak punya uang”. Tapi penelpon terus merayu kendaraan itu bisa dikredit dengan uang muka 20-50 persen dan bonus pengiriman dan biaya balik nama (BBN).

Merasa memang tak butuh Bambang mengakhiri pembicaraan dan menutup telponnya. Kemudian ia mengirim SMS kepada Badu temannya yang di Surabaya, apakah benar yang Badu baru saja telpon dengan nomor yang lain.

Badu yang asli, membalas SMS mengatakan ia tidak punya nomor hp lainnya, selain yang ia gunakan sekarang ini. Saat itulah Bambang yakin benar bahwa yang menelponnya tadi adalah seorang penipu.

Lantas dengan iseng dia SMS si Badu penipu itu, dengan kalimat singkat, “Bisa kredit ya?”. Tak lama kemudian “Badu” langsung menelpon dan mengatakan bisa. Dia ceritakan kendaraan-kendaraan itu jenisnya ada Honda Beat, Honda Vario, Yamaha Mio Sporty Tahun 2013 dengan harga Rp 7 juta.

“Untuk lebih jelasnya, saya SMS saja ya”, kata “Badu”. Kemudian dia SMS berbagai jenis kendaraan bermotor dan mobil, seperti Mitsubishi Pajero Sport Dakar Rp 200 juta, Toyota Fortuner TRD Rp 180 juta, Honda New CRV Rp 150 juta dan masih banyak lagi.

“Ada juga Avanza, Terios…saya lupa macamnya, karena SMSnya sudah saya hapus”, kata Bambang berkisah. Penipu itu memang berkali-kali telpon dan SMS, tapi Bambang tak meresponnya lagi. Bambang minta agar kisahnya ini diberitakan, sehingga banyak orang tahu dan tidak menjadi korban penipuan dengan modus baru ini. (tkr)

Kades Hajar Warganya, Polsek Ngronggot Masuk Angin?

Nganjuk (Sergap) – Seorang Kepala Desa (Kases), salah satu tugasnya adalah melindungi warganya. Namun hal yang sebaliknya terjadi di Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Sang Kades yang bernama Karjono, justru menghajar sampai dengan babak belur salah satu warganya, Robian (32th) sehingga harus dirawat di RSUD Kertosono.

90 ilustrasi-penganiayaanKejadian berawal ketika, Karjono dan Robian sama-sama melayat salah satu warga yang meninggal dunia, pada hari Minggu, 11 Mei 2014. Di saat mengusung jenazah, Karjono yang memanggul di bagian depan hampir jatuh. Karjono marah-marah karena menganggap jalannya usungan keranda itu terlalu cepat.

Robian yang kebetulan memanggul tepat di belakang Karjono, menjadi sasaran kemarahan. Lantas Karjono meminta pada salah satu temannya untuk menggantikan posisi korban. Setelah prosesi pemakaman selesai, korban dipanggil oleh Karjono dan dibonceng sepeda motor, diajak ke lokasi pembuatan batu merah miliknya.

Sesampainya di lokasi, korban langsung diajak masuk ke kamar. Saat itu, Roso Suwito, paman korban dan Jumakir Irawan, kakak korban sempat berusaha melerai. Akan tetapi Karjono malah membentak keduanya. Tanpa bicara banyak, dengan menjambak rambut korban, Karjono langsung menghujamkan bogem mentah ke tengkuk dan dada korban bertubi-tubi sampai tidak bisa dihitung berapa kali. Tak hayal korban jatuh tersungkur, sampai muntah-muntah lalu pingsan.

Usai melampiaskan kemarahanya dengan memukuli korban, Karjono langsung pergi begitu saja dan meninggalkan korban tergeletak tak berdaya. Roso Suwito dan Jumakir Surawan yang terus membuntuti dari belakang dan langsung membawa korban pulang ke rumah. Karena kondisi korban sangat menghawatirkan, lalu dibawalah ke RSUD Kertosono untuk perawatan intensif.

Jumangi (56th), paman korban membenarkan kejadian yang menimpa Robian. Jumangin sangat menesalkan kejadian yang menurutnya sangat kejam. “Keponakan saya Robian itu orangnya sederhana, kesehariannya hanya bekerja sebagai pembuat batu bata. Pak Kades harus bertanggungjawab terhadap pemukulan yang dilakukannya kepada keponakan saya”, kata Jumangin kepada Tabloid Sergap. Saat berita ini ditulis, Robian sudah pulang dari rumah sakit. Namun ia masih diungsikan keluarganya di Surabaya karena mengalami trauma atas kejadian pemukulan yang dialaminya. Bahkan ibu korban juga shock melihat nasib sial yang menimpa anaknya.

Warga dan keluarga Robian, mengaku sudah melaporkan kejadian ini ke Kepolisian Sektor Ngronggot. Kapolsek Ngronggot AKP Totok saat dikonfirmasi membenarkan kejadian kekerasan ini. Kapolsek mengatakan proses hukumnya sedang berjalan. “Penyidik sedang dalam proses pembuatan BAP. Semuanya masih dalam proses”, katanya saat ditemui di kantornya.

Merasa penanganan oleh Polsek Ngronggot dianggap lambat, maka pada hari Senin, tgl 19 Mei 2014 warga Desa Kaloran melakukan unjuk rasa ke Kantor Bupati Nganjuk. Warga menuntut agar Bupati memberikan sanksi kepada Kades Karjono yang dianggap telah melakukan pemukulan dan penyiksaan kepada warganya sendiri.

Bupati Nganjuk Taufiqurrahman menjanjikan untuk menyelesaikan tuntutan warga. Mendengar janji bupati tersebut, akhirnya warga membubarkan diri. Namun mereka juga mengatakan akan melakukan demo dalam jumlah yang lebih besar lagi, jika tuntutannya tidak dipenuhi. “Jika tuntutan kami tidak segera dipenuhi, kami akan datang lagi dengan jumlah lebih banyak dan melaporkan banyak permasalahan lainnya di Desa Kaloran”, kata salah seorang warga yang namanya minta untuk sementara tidak ditulis.

Akankah ini akan menjadi contoh penegakkan hukum di Indonesia yang tajam ke bawah, namun tumpul ke atas? Kita ikuti perkembangan kasusnya ke depan. (gus)

Kapolresta Batu : Malang Bagian Barat Lebih Rawan

AKBP Windiyanto Pratomo

AKBP Windiyanto Pratomo

Malang (Sergap) – Kinerja aparat keamanan bakal bertambah berat pada Pilpres Rabu 9 Juli 2014 ini. Penyebabnya adalah pengurangan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Malang Raya, berdampak pada membengkaknya jumlah pemilih.Di wilayah Malang Barat (Pujon, Ngantang dan Kasembon) pengurangan itu berpotensi menimbulkan kerawanan.Pasalnya, akibat pengurangan ini, satu TPS bisa mencapai 700 hingga 800 pemilih.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kapolres Batu, AKBP Windiyanto Pratomo. Kondisi tersebut sedikit berbeda dibandingkan dengan TPS yang ada di wilayah Kota Batu. Pengurangan ini, menurut Kapolres bisa menimbulkan permasalahan.

“Banyaknya jumlah pemilih, bisa juga menimbulkan antrian panjang yang memungkinkan berbagai potensi keributan”, kata kapolres. Sebab itulah, Polres Batu memberikan pengamanan lebih, untuk TPS yang berada di wilayah Kabupaten Malang tersebut. Untuk diketahui tiga kecamatan Kabupaten Malang menjadi wilayah hukum Polres Batu.

Kapolres juga mengatakan bahwa berdasarkan prediksi intelijen, seluruh wilayah hukum Polres Batu seluruhnya aman, sebelum maupun sesudah pemilihan presiden. Namun demikian, beberapa langkah antisipasi tetap akan dilakukan agar kondisi yang sudah kondusif ini tetap terjaga.

Jumlah pasangan Capres yang hanya ada dua orang ini, menurut Kapolres memang menimbulkan potensi konflik yang lebih tinggi, karena itulah ia meminta kepada seluruh personil Polres Batu untuk mengantisipasi semua kemungkinan yang bisa terjadi.

Tak mau kecolongan, Polres Batu menggelar apel kesiapan pengamanan pemilihan presiden, sekaligus apel pergeseran pasukan, Senin (7/7/2014). Sebagian besar personil Polsek dikerahkan untuk pengamanan pilpres ini, bahkan PNS di lingkungan Polres Batu juga dilibatkan untuk membantu. “Kita menggunakan pola pengamanan 2, 5, 10, artinya dua orang petugas mengendalikan beberapa TPS, sementara Linmas pada setiap TPS terdapat dua orang,” jelas Kapolres.Seluruh personil yang diterjunkan ke TPS itu, sudah dibekali buku saku yang berisikan pedoman pengamanan, dukungan dana operasional, hingga dukungan obat-obatan. (enny)

Motor Lenyap Dibius Wanita Berjilbab

Mulyoto masih tergolek lemas di rumah sakit

Mulyoto masih tergolek lemas di rumah sakit

Ponorogo (Sergap)Pasangan suami istri Mulyoto (46) dan Maryati (35), , pemilik warung nasi di selatan RSUD dr Harjono, telah kehilangan sepeda motor Honda Beat warna putih biru setelah korban dibius seorang wanita berjilbab.

Kejadian yang menimpa Warga Dusun Bantaran, Desa Madusari, Kecamatan Siman, Ponorogo, berawal ketika korban yang sedang menjaga warungnya kedatangan pembeli seorang perempuan berjilbab. Kepada kedua korban, pelaku mengaku menunggu keluarganya yang rawat inap di RSUD dr Harjono. Pelaku juga mengaku sudah tiga hari di rumah sakit, dan minta diantar pulang mengambil baju ke rumahnya di Mojo Timun, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan.

Karena dijanjikan upah Rp 100 ribu, Mulyoto bersedia mengantarkannya. Sesampainya di SPBU Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, pelaku mengajak Mulyoto makan dan minum di sebuah warung pecel. “Saat makan perempuan itu menyuruh saya membeli obat tolak angin, setelah itu saya melanjutkan makan. Di tengah perjalanan saya merasakan pusing dan mengantuk, lalu saya disuruh menunggu di Poskamling sedangkan motor saya dibawa kabur,” katanya.

Maryati yang sudah berada di rumah, akhirnya melapor ke polisi setelah suaminya seharian tidak pulang. Korban yang juga perangkat Desa Madusari itu ditemukan dalam kondisi linglung di Poskamling. Sekujur tubuhnya kotor dan bau, karena koban buang air besar di celana. “Saya dikira orang gila, karena masih linglung kena pengaruh bius,” ungkapnya.

Kasubag Humas Polres Ponorogo, AKP Imam Khamdani mengatakan,  karena TKP di wilayah Magetan maka petugas koordiansi dengan jajaran Polres Magetan. “Saat ini pelaku sedang kita lacak keberadaannya,”katanya. (hs).

Kasus Pemukulan Petugas Pemilu di Kabupaten Madiun, Pemkab Akan Beri Sanksi Kades dan Perangkat Desa

90 mdn pemukulan panwas

Katimun dengan wajah ketakutan “diselamatkan” polisi berpakaian preman

Madiun (Sergap) – Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panswaslu) Kabupaten Madiun,  melaporkan dugaan kasus penganiayaan yang menimpa dua anggotanya ke Polres Madiun. Dua anggota Panwaslu korban penganiayaan tersebut ialah Katimun, Komisioner Divisi Penindakan, dan Tri Lestari, Ketua Panwas Kecamatan Jiwan. Mereka mengalami luka di bagian kepala dan tangannya. Untuk menindaklanjuti dugaan pengiayaan tersebut, pihak Panwaslu juga melaporkan kasus ini ke Badan Pengawas Pemilu Jawa Timur.

“Kami sudah melapor ke polisi karena kami didorong dan dipukul oleh anggota Parade Nusantara yang mengikuti sosialisasi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan,” kata Katimun, Senin, (7/7/2014) siang.

Saat berita ini ditulis, Katimun masih dirawat di RSUD Caruban, Kabupaten Madiun, sedangkan Tri Lestari dirawat di Rumah Sakit Islam Siti Aisyah, Kota Madiun.

Pemukulan terhadap petugas Pemilu itu terjadi hari Minggu sore, 6 Juli 2014. Adapun penyebab penganiayaan, ia melanjutkan, karena dalam sosialisasi tersebut ditengarai terjadi kampanye terselubung. Narasumber dalam kegiatan itu di antaranya Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso dan Ketua Umum Parade Nusantara Sudir Santosa. “Narasumber ini beberapa kali menyebut capres dan cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa,” ujar Katimun.

Karena hari Minggu kemarin itu sudah memasuki masa tenang kampanye, petugas Panwaslu menegur narasumber agar tidak mempromosikan Prabowo. Namun, sejumlah anggota Parade Nusantara Kabupaten Madiun yang jadi Timses Prabowo tidak terima dengan teguran tersebut. Dua petugas Panwaslu yang hendak membubarkan kegiatan itu malah menjadi sasaran pemukulan.

Sadewo, anggota Panwaslu Kecamatan Jiwan, mengatakan pihaknya mempercayakan penanganan kasus ini kepada aparat Kepolisian dan Badan Pangawas Pemilu Jawa Timur. Kedua lembaga ini diharapkan bisa bertindak tegas dalam menangani dugaan penganiayaan. “Kami belum mendapatkan informasi terbaru dari kasus ini. Mungkin nanti siang baru dikoodinasikan ke polisi dan Banwaslu Jawa Timur,” kata Sadewo.

Informasinya, Ketua Panitia Sosialisasi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa yang dilaksanakan di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan itu adalah Dimyati Dahlan.

Dimyati Dahlan, S.Sos dikenal sebagai aktivis LSM dan Parade Nusantara, pernah mencalonkan diri sebagai Calon Legeslatif dari PKPI, juga pernah mencalon diri sebagai Wakil Bupati Madiun yang diusung oleh PKNU, Partai Patriot, dan PDK namun gagal memperoleh suara yang berarti.

Sementara itu, Pemkab Madiun merasa kecolongan atas upaya mobilisasi Kepala Desa (Kades) dan perangkat di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, yang berakhir dengan ricuhan dan menyebabkan anggota Panwaslu dan Ketua Panwascam Jiwan menjadi korban penganiayaan saat sesuai dengan tugasnya, berusaha membubarkan acara.

“Kami merasa kecolongan atas peristiwa itu. Kami tak ada yang disana. Tetapi itu sudah kami laporkan ke Bupati Madiun karena kejadian itu sudah melukai warga Kabupaten Madiun,” terang Kepala Bakesbangpol Dagri Pemkab Madiun, Kurnia Amrullah saat menemui para perwakilan Rakyat Peduli Demokrasi di kantornya, Senin (7/7/2014).

Bupati Madiun merasakan prihatin atas kejadian tersebut. Oleh karenanya, Bupati Madiun langsung memerintahkan Asisten Pemerintahan dan Kepala Bappemas dan Pemdes untuk menindaklanjuti kasusitu, termasuk menginventarisir Kades dan perangkat yang hadir dalam acara itu.

“Mungkin saja ada sanksinya bagi Kades dan perangkat desa. Itu akan diberikan setelah proses hukum di Panwaslu dan proses hukum di polisi selesai.  “Polisi mulai kan sudah menangani. Bupati dan sekda pun sudah mewarning para Kades dan perangkat sebelumnya. Kejadian kemarin melukai pemerintah daerah.Kami akan tindaklanjuti masalah itu,” kata Kurnia Amrullah menegaskan.

Sarono, salah seorang aktivis Rakyat Peduli Demokrasi, meminta sanksi juga diberikan kepada Kades yang menyediakan rumahnya dijadikan ajang sosialisasi berbau kampanye. “Pilpres aman dan damai tanggung jawab Pemkab Madiun beserta Forpimda. Karena itu, jangan sampai para Kades dan perangkatnya mendukung dan menjadi alat pemenangan salah satu pasangan Capres dan Cawapres. Ini kan sudah masa tenang. Seharusnya aparat desa termasuk Kades tak membuat kacau”, katanya. (tkr/hs)

 

Jelang Lebaran, Waspadai Peredaran Uang Palsu

Waspadalah...Waspadalah !!!

Waspadalah…Waspadalah !!!

Surabaya (Sergap) – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan IV Jawa Timur mengimbau masyarakat di wilayah kerjanya untuk mewaspadai peredaran uang palsu menjelang Ramadan, Pilpres, hingga Lebaran Idul Fitri 1435 Hijriah.

“Bulan Suci Ramadhan pada tahun ini sangat unik, karena momentumnya bertepatan dengan Pilpres Tahun 2014,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur, Hamid Ponco Wibowo, di Surabaya, Rabu (2/7/2014).

Faktor penyebabnya, ungkap dia, pada perhelatan tersebut intensitas masyarakat terhadap penarikan uang tunai diperkirakan meningkat sehingga kewaspadaan peredaran uang palsu sangat diperlukan. “Selain itu, kewaspadaan juga perlu karena penjahat juga mengincar anjungan tunai mandiri (ATM),” tegasnya.

Contoh kejadian itu, di Malang oknum tak bertanggung jawab membobol tiga unit ATM. Hal itu mereka lakukan dengan cara merusak sistem kelistrikan saat menarik uang. “Oleh sebab itu, kami harap adanya peningkatan pengamanan,” ujarnya.

Upaya tersebut, misalnya dengan menerapkan teknologi termutakhir. Dengan cara itu, ATM di penjuru tanah air bisa menghitung secara benar dan membaca “chip” yang aman. “Di sisi lain, bagi penyedia jasa sortasi uang idealnya mereka juga mengutamakan ketelitian. Tujuannya, untuk menghindari kemungkinan uang palsu terselip saat memilah,” katanya.

Sebelumnya. Hamid Ponco menjelaskan untuk mengatasipasi peredar uang palsu jelang lebaran 2014, BI dan aparat kepolisian terus melakukan koordinasi dengan peradan uang palsu ini. Tahun lalu, Surabaya menjadi kota terbesar dalam peredaran uang palsu di Jatim.

“Jumlah uang palsu yang ditemukan dan dilaporkan, pada 2013 di Jatim ditemukan 30.675 lembar. Dari jumlah itu meningkat 24,54% dibandingkan dengan penemuan uang palsu pada  tahun sebelumnya. Sementara wilayah Surabaya menduduki peringkat pertama dengan total 13.469 lembar,” tegasnya.

Namun Ponco mengakui, peredaran uang palsu jelang lebaran maupun momen penting lainnya kerap sekali beradar mengingat pera pelaku (pembuat uang palsu) semakin lama makin canggih.“Walaupun demikian, apapun yang dilakukan meraka (pembuat uang palsu) tetap saja masih ada kesalahan cara membuat uang palsu. Tahun ini, kami berharap pada masyarakat agar tetap waspada jelang lebaran peredaran uang palsu ini,”pungkasnya. (ang)

 

Harta Gono-Gini Berujung Masalah

Titin Purwati

Titin Purwati

Kediri, Sergap – Setiap orang yang menikah menginginkan kehidupan rumah tangganya harmonis selamanya. Pasti tak ada yang membayangkan akan terjadinya perceraian. Namun kadang takdir tak dapat ditolak.

Gatot Sutrisno (47) dan Tintin Purwanti (44) adalah pasangan suami istri yang akhirnya harus menempuh perceraian, melalui sebuah sidang di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri, dengan dikeluarkannya Keputusan PA tertanggal 7 Juni 2004 No. 329/Pdt.G/2004/PA yang telah berkekuatan hukum tetap, disertai bukti Akta Cerai No. 936/AC/2004/PA.

Di dalam Keputusan PA tersebut juga tercantum keputusan yang mengikat tentang Harta Bersama (Gono-Gini), berupa sebidang tanah dan bangunan yang tercatat dengan persil No 51 Blok D1 Kohir 456, seluas + 120 m2 yang kepemilikannya tercatat dalam bentuk Akta Jual Beli atas nama sang suami Gatot Sutrisno.

Dalam surat pernyataan yang dicatatkan di Notaris Sudarti Budiono, SH, Gatot Sutrisno dan Titin Purwati sepakat bahwa Harta Gono-Gini tersebut akan dijual dengan harga Rp. 150 Juta dan hasilnya dibagi dua masing-masing menerima Rp. 75 Juta.

Belakangan, Harta Gono-Gini yang berada di  Desa Mlati, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, diketahui telah berpindahtangan secara sepihak yang dilakukan Gatot Sutrisno, mantan suami Tintin Purwati.

Karena lama tak mendapat kabar tentang sudah laku tidaknya tanah tersebut, maka suatu hari Titin menanyakannya kepada mantan suaminya itu. Alangkah terkejutnya Titin, ketika Gatot mengatakan bahwa Akta Jual Beli telah berpindahtangan kepada Sri Rahayu.

Tintin langsung menemui Sri Rahayu yang tinggal tak jauh dari tempat Gatot. Sri Rahayu memberitahukan bahwa Akta Jual Beli sudah di jadikan jaminan oleh Gatot Sutrisno untuk hutang uang secara bertahap hingga mencapai jumlah + Rp 33 juta.

“Saat bertemu dengan Sri, dia mengaku bahwa Akta Jual Beli ada padanya sebagai jaminan hutang sebesar Rp. 33 juta. Dan itu dilakukan oleh mantan suami saya tanpa sepengetahuan dan seijin saya”, jelas Tintin kepada Tabloid Sergap.

Selanjutnya Sri Rahayu juga menceritakan bahwa Akta Jual Beli tersebut dipindahkan kepemilikannya kepada tetangganya yang bernama Munir.

Karena merasa dirugikan, maka Titin Purwati melaporkan semuanya ini ke Kepolisian Sektor Mojo. Kepada polisi Titin juga sudah member keterangan bahwa dirinya dirugikan sebesar Rp. 75 juta, sebagaimana tercantum dalam Keputusan PA Kabupaten Kediri Nomor : 2773/Pdt.G/2013/PA.Kab.Kdr tentang Nilai Harta Bersama yang telah disepakati dalam putusan nomor 6 halaman 3.

Dalam proses mencari keadilan ini, pada tanggal 18 Desember 2013, Tintin sudah diperiksa oleh penyidik Polsek Mojo sebagai saksi pelapor dan dituangkan dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP), walaupun anehnya, Polsek Mojo tidak mengeluarkan Surat Laporan Kepolisian.

Pada tanggal 26 Desember 2013, Titin dipanggil Kepala Unit Reskrim dan AKP Mansur Kapolsek Mojo yang menyatakan, bahwa kasus ini tidak dapat diproses lebih lanjut karena tidak memenuhi usur pidana penggelapan.

Titin juga dipertemukan dengan Munir, dimana di situ dia diarahkan untuk berbagi atas tanah dan bangunan tersebut dengan Munir. Polsek Mojo tidak melakukan pemeriksaan kepada Sri Rahayu dan Munir.

Kepada Tabloid Sergap, Tintin menuturkan keinginannya untuk meminta haknya atas separuh dari harta tersebut kepada Gatot.  “Saya hanya menuntut  hak saja, terlepas  akta jual beli itu telah berpindahtangan sebanyak dua kali kepada Sri Rahayu kemudian ke Munir yang dilakukan mantan suami saya, semuanya saya serahkan ke pengacara saya, “ terang Tintin.

Selanjutnya, Titin mengadukan kasusnya ini ke Polresta Kediri. Dia berharap akan mendapatkan penyelesaian yang adil bagi dirinya. Maka pada tanggal 30 Desember 2013 yang lalu iapun mengirim surat secara resmi kepada Kapolresta Kediri AKBP Budhi Herdi Susianto.

Terkait hal itu, Kasat Reskrim Kediri Kota AKP Surono membenarkan bahwa Polres Kediri Kota sudah menerima pelimpahan kasus Titin Purwati dari Polsek Mojo. “Pengaduan dan pelimpahan masalah dari Polsek Mojo sudah saya terima, tapi kita masih lakukan lidik (penyelidikan, red) dulu. BAP sudah masuk di Polres Kediri Kota”, kata AKP Surono melalui telpon selulernya. (Dick/Bram)