Seminggu Gratis Masuk Jalan Tol Kertosono – Mojokero

Pintu masuk tol di wilayah Jombang

Pintu masuk tol di wilayah Jombang

Jombang (Sergap) – Jalan tol Trans Jawa di ruas Kertosono–Mojokerto seksi I sepanjang 14,7 Km di Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timut, telah diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, Senin (13/10/2014). Ruas jalan tol tersebut, adalah bagian dari total jarak 40,5 Km yang merupakan ruas tol terpanjang di Jawa Timur.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto mengatakan, ruas tol Kertosono – Mojokerto adalah bagian dari tol Trans Jawa. Namun, untuk saat ini yang diresmikan masih seksi satu, yang dimulai dari Desa Kayen, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, hingga Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Jombang, sepanjang 14,7 kilometer. Proyek itu telah selesai pada Oktober 2014.

Menteri PU berharap, peresmian Seksi I ini bisa mempercepat pengerjaan ruas tok Seksi II, III dan seksi IV. Seksi II di Desa Tampingmojo-Desa Pagerluyung Mojokerto sepanjang 19,9 kilometer dan saat ini juga masih dalam tahap pembebasan lahan.

Hingga saat ini, untuk seksi 2 dari Desa Kemantren-Desa Canggu Mojokerto sepanjang 5 kilometer dan seksi 4 dari Desa Brodot-Desa Gondang Manis, Kabupaten Jombang sepanjang 0,9 kilometer dan sedang dalam proses pembebasan lahan.

Merespon permintaan Pemkab Jombang untuk mengubah nama tol tersebut dari Kertosono – Mojokerto menjadi Jombang – Mojokerto atau disingkat “Joker”, karena lokasi tol tersebut bukan berada di Kertosono, melainkan di Kabupaten Jombang, Menteri  PU masih mempertimbangkan. “Sesuai SK di Kementrian PU, nama ruas tol tersebut Kertosono – Mojokerto, bukan Jombang – Mojokerto,” ujarnya.

Presiden Direktur  (Presdir) PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI), Wiwiek D Santoso mengatakan, Seksi I sepanjang 14,7 Km ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi kepadatan lalu lintas di sekitar Jombang, khususnya dari arah Kertosono ke Ploso dan sebaliknya, juga dari Jombang ke Kertosono dan sebaliknya.

Menurutnya, momen ini menjadi tanda kesiapan beroperasinya ruas tol yang menghubungkan Bandarkedungmulyo-Jombang. Adapun gerbang sisi barat disebut Gerbang Bandar, berada di Kecamatan Bandarkedungmulyo, sedangkan gerbang sisi timur yang disebut Gerbang Jombang berada di Tembelang.

“Kami memiliki target untuk bisa mengoperasikan seksi I ini sebelum akhir tahun 2014. Target tersebut akhirnya terpenuhi, berkat dukungan dari banyak pihak, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta masyarakat Jombang,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Wiwiek, pembangunan seksi 2, 3, dan 4 terkendala pembebasan lahan. Seksi 2 ruas tol Mojokerto-Kertosono akan dibangun sepanjang 19,9 km mulai Desa Tampingmojo Kecamatan Tembelang-Desa Pagerluyung Kecamatan Gedeg. Sampai September tahun ini, lahan yang dibebaskan baru 83% dari kebutuhan.

Seksi 3 sepanjang 5 km dari Desa Kemantren-Desa Canggu Kabupaten Mojokerto, lahan yang belum dibebaskan sekitar 13%. Sedangkan seksi 4 sepanjang 0,9 km dari Desa Brodot-Desa Gondang Manis, Kabupaten Jombang, pembebasan lahan baru 80%.

“Kami berharap kebutuhan lahan untuk seksi 2, 3, dan 4 dapat kami terima tahun ini, sehingga ruas tol Mojokerto-Kertosono ini dapat dioperasikan pada 2015,” ucap Wiwiek dalam acara peresmian ruas tol Mojokerto-Kertosono seksi 1 di gerbang tol Jombang, Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang, Jombang, Senin (13/10/2014).

Menanggapi keluhan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto meminta agar pemerintah daerah membantu pembebasan lahan. Caranya, pemerintah daerah ikut memberikan penjelasan kepada warga yang terdampak proyek tol bahwa pembebasan lahan bukan untuk kepentingan pemerintah atau pengusaha jalan tol, melainkan untuk kepentingan masyarakat luas.

Selain itu, Djoko mengimbau agar pemberian ganti rugi lahan dan bangunan milik warga dengan nilai wajar. “Mereka (pemerintah daerah) harus kerja keras. Saya sudah bicara dengan Pak Gubenur, Pak Bupati agar pembebasan lahan bisa dipercepat,” tuturnya.

Rumitnya pembebasan lahan, menurut Djoko, juga terjadi di ruas tol lainnya yang masuk dalam jaringan Tol Trans Jawa. Antara lain ruas tol Brebes-Semarang, Bawen-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Mojokerto-Kertosono, dan Mojokerto-Surabaya. Ruas tol tersebut hingga kini masih proses pembebasan lahan.

“Tol Trans Jawa mulai dari Serang-Jakarta sudah selesai 100%, Jakarta-Karawang sudah selesai, Karawang-Cirebon dan Cirebon-Brebes tahun depan selesai, Semarang-Solo-Bawen sudah selesai,” pungkasnya.

Gratis seminggu

Meski peresmian dilakukan, Senin (13/10) namun penarikan tarif tol baru akan diberlakukan efektif mulai 20 Oktober. “Jadi dari peresmian hingga 19 Oktober pengguna jalan tol masih digratiskan,” kata Presdir PT MHI menjelaskan.

Adapun tarif tol, untuk kendaraan golongan I Rp 10.000. Selanjutnya Rp 15.500 untuk golongan II, Rp 20.500 golongan III, Rp 25.500 untuk golongan IV, dan termahal kendaraan golongan V sebesar Rp 30.500.

Direktur PT Astra International Tbk, Paulus Bambang Widjanarko menjelaskan, pembangunan  tol ini diharapkan bisa menjadi salah satu tol terbaik di Indonesia. “Desain gerbang dan kantornya dibuat dengan memperhatikan budaya setempat, namun dalam nuansa modern. Sirip-sirip pada atap menyerupai susunan batu pada candi-candi di Jawa Timur,” imbuhnya.

Paulus mengungkapkan, ruas tol Mojokerto-Kertosono seksi 1 ini seluruhnya dibangun dengan perkerasan beton baik lajur utama (dua lajur, dua arah) maupun bahu jalannya.  “Karena direncanakan di masa yang akan datang, ruas tol ini akan menjadi tiga lajur. Maka di sebagian besar seksi ini median jalannya sangat lebar,” tambahnya.

MHI sebagai Badan Usaha Jalan Tol pemegang hak konsesi ruas tol ini merupakan bagian dari Grup Astra melalui PT Astratel Nusantara, anak perusahaannya di bidang Infrastruktur dan Logistik. Sebelumnya, PT Astra International Tbk melalui PT Marga Mandala Sakti mengoperasikan jalan tol untuk ruas Tangerang-Merak sepanjang 72,5 Km. Dalam acara itu, selain dihadiri Menteri PU, juga dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko. (yus/gus)

Fly Over Peterongan Sudah Bisa Dilintasi Pemudik

Fly over Peterongan mendekati selesai

Fly over Peterongan mendekati selesai

Surabaya (Sergap) – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V, Kementerian Pekerjaan Umum, memastikan pembangunan tiga jembatan layang (fly over) di Jawa, yaitu Kali Banteng, Jombor dan Peterongan, selesai sebelum lebaran dan bisa dilintasi pemudik. Selama ini kemacetan lalu lintas akibat padatnya kendaraan pada persimpangan kerap menjadi masalah utama pemudik.

Kepala BBPJN V, Kementerian Pekerjaan Umum, Masrianto, Selasa (23/7) mengatakan, ketiga fly over dengan nilai total hampir Rp 309 miliar tersebut ditargetkan dapat digunakan pada arus mudik lebaran tahun ini.

Dikatakannya, untuk fly over Peterongan di Jombang yang pembangunannnya menghabiskan dana sekitar Rp 89 miliar bisa dilewati pada 29 Juli 2013. Secara keseluruhan, jembatan sepanjang 680 meter tersebut akan rampung pembangunannya pada Oktober. “Kami akan buka dua lajur hingga H+10 dan setelah itu pembangunannya kami lanjutkan,” katanya.

Semula pembangunan fly over tersebut sempat terhenti lantaran terhambat izin penggunaan lahan dari PT KAI. Keterlambatan terjadi karena pelaksana proyek tidak bisa memasang steelbox girder untuk menyambung dua sisi jembatan yang meloncati rel KA. Pemasangan itu pihaknya butuh izin dari PT KAI.

Pemasangan steelbox girder hanya bisa dilakukan pada pukul 22.00 sampai 04.00 WIB disaat tidak ada KA lewat. Pada jam-jam itu biasanya memasang beton-beton besar. Tapi begitu saat mau memasang ‘steelbox girder’, mereka diharuskan dapat izin dulu.

Untuk mendapatkan izin rupanya tidak gratis. pelaksana proyek diharuskan bayar Rp 1 juta untuk setiap 60 detik. Untuk nyambung diperkiraan butuh 180 menit, sehingga mereka harus bayar Rp 180 juta.

Pengenaan biaya sebesar itu dilakukan guna mengantisipasi gangguan layanan KA. Karena sebelumnya, PT KAI pernah diklaim penumpang akibat tersendatnya perjalanan lantaran terjadinya gangguan pada saat pemasangan steelbox girder di daerah lain. Namun permasalahan itu kini telah selesai setelah dilakukan sejumlah perundingan dan kini steelbox girder sudah terpasang.

Fly Over Kalibanteng dan Jombor
Meskipun belum rampung secara keseluruhan.jembatan layang Kali Banteng yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah saat ini sudah dapat difungsikan, walau dalam rangka ujicoba. Jembatan senilai Rp 105 miliar tersebut menghubungkan dari arah pelabuhan di Semarang dan dari arah kota Semarang menuju ke arah Jakarta. Jembatan dikerjakan melalui kontrak tahun jamak 2011 – 2013.

Fly over Jombor di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga sudah bisa dilalui pemudik. Progres pembangunan flyover tersebut sudah mencapai 80 persen. Dengan panjang 225 meter, jembatan yang dibangun dengan dana sebesar Rp 114,9 miliar tersebut bisa dilalui pada H-10 lebaran.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional V Wilayah DIY, Heru Prayogo mengungkapkan ujicoba untuk lalu lintas umum segera dilakukan dalam waktu dekat. Demi aspek keselamatan berkendara, khususnya pada malam hari, Kementerian PU juga menyiapkan penerangan jalan untuk fly over Jombor.

“Semua lalu lintas dari arah barat yaitu Purworejo langsung naik fly over, yang ke arah Magelang langsung belok kiri , yang akan mau ke arah kota Yogja masuk jalan eksisting berputar dibawah masuk ke jalan magelang ke arah selatan. Sedangkan dari arah sebaliknya dari arah Solo yg ke arah Purwerejo naik fly over,” jelas Heru.

Satu jembatan layang lainnya yang siap digunakan untuk mudik kali ini ialah Peterongan di Jombang, Jawa Timur. Jembatan yang dibangun untuk mengurai kemacetan karena konflik lalu lintas kendaraan dengan jalur kereta api tersebut hingga saat ini progres pembangunannya sudah mencapai 90 persen. (ang)

Berita terkait : –   Waspadai Kemacetan di Peterongan Jombang dan Braan Kertosono

Juni 2013 Pemkab Jombang Buka Seleksi CPNS Baru

Drs. Eksan Gunajati, MSi

Drs. Eksan Gunajati, MSi

Jombang (Sergap) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang akan melaksananakan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) jalur umum, pada minggu kedua bulan Juni tahun 2013 ini. Sebanyak 250 formasi telah diusulkan ke Badan Kepegawaian Nasional (BKN). Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, BKD Jombang telah mengalokasikan anggaran seleksi sebesar Rp 700 juta dari APBD 2013.

Drs. Eksan Gunajati, MSi, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jombang, mengungkapkan, dari 250 formasi yang diusulkan tersebut, jumlah terbanyak tetap dari unsur pendidik/guru. Sedangkan formasi terbanyak kedua adalah tenaga kesehatan dan disusul tenaga teknis, serta tenaga administrasi. “Sebenarnya kebutuhan PNS kita sangat banyak. Hanya saja untuk sementara kita usul 250, itu pun belum tentu dikabulkan,” ujarnya, Jumat (15/3/2013).

Dijelaskan pula oleh Eksan bahwa berapa formasi yang disetujui, hal itu menjadi kewenangan BKN. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, BKD Jombang juga selalu mengusulkan CPNS jalur umum. Hanya saja dua tahun terakhir usul itu tak pernah dikabulkan karena alasan moratorium atau penghentian sementara rekrutmen CPNS.

Untuk tenaga guru saja, jika mengacu kepada usulan Dinas Pendidikan, sekarang ini kebutuhan guru baru sebanyak 900 orang, belum kebutuhan tenaga kesehatan dan yang lainnya. “Sampai lima tahun kedepan, kita butuh sekitar lima ribu PNS baru,’’ kata Eksan.

Hal itu seiring banyaknya PNS yang pensiun sepanjang lima tahun kedepan. Sehingga idealnya, Jombang merekrut seribu PNS baru tiap tahunnya. Tapi lagi-lagi kebutuhan tersebut belum tentu bisa terpenuhi sebagaimana mestinya.

Sebab aturan pusat terkait rekrutmen PNS tersebut sekarang ini sangat ketat. Malah yang terbaru, pusat berencana hanya akan menyetujui penerimaan PNS bagi daerah yang alokasi belanja rutinnya dalam APBD dibawah 50 persen. Saat ini, alokasi belanja rutin dalam APBD Jombang sendiri ada di kisaran 60 persen. (sule)

Jalan Presiden Abdurahman Wahid Diresmikan Bupati Jombang

Bupati Drs. H. Suyanto didampingi Ny. Sinta Nuriyah dan Yeny Wahid, saat peresmian. (humas)

Jombang, Sergap – Peresmian jalan untuk menghormati almarhum Presi-den KH Abdurrahman Wahid di depan Gelanggang Olahraga (GOR) Merdeka, berlangsung semarak, Minggu (28/10/ 2012) malam, dilakukan oleh Bupati Jombang, Drs. H Suyanto MM. Dengan demikian nama Jl. Merdeka telah resmi menjadi Jl. Presiden Abdurahman Wahid. Peresmian itu ditandai dengan pemasangan papan nama Jl. Presiden Abdurahman Wahid, di ujung jalan bagian timur depan Kampus Undar, diiringi dengan lantunan shalawat.

Peresmian itu selain dihadiri para pejabat di Pemkab Jombang, sejumlah tokoh agama dan masyarakat, di antaranya KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Maman Imanulhaq, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Ny. Sinta Nuriyah dan Zanubah Arifah Chafsah (Yenny Wahid), istri dan anak Gus Dur. Acara juga diramaikan atraksi kesenian barongsai dan kreasi musik dari Sholawat Jamiyah Diba 1000 Rebana.

Sebelum peresmian penggantian nama jalan dilakukan, seluruh yang hadir mengawali dengan membacakan tahlil dipimpin oleh KH Masduqi Abdurrahman. Setelah itu, GusSholah dan Yenny Wahid serta Bupati Jombang menarik tirai yang bertuliskan Jl. Presiden KH Abdurrahman Wahid. Seiring dengan itu, lantunan shalawat langsung dikumandangkan. Begitu tirai dibukan, tampak jelas tulisan “Jl Presiden KH Abdurrahman Wahid” dengan dasar warna biru. Ribuan pengunjung yang hadir pun bertepuk tangan gemuruh.

Bupati Suyanto dalam pidatonya menyatakan, penggantian jalan Merdeka dengan Jalan KH Abdurrahman sudah ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda), dan diperkuat peraturan bupati (Perbup). Bupati, menambahkan, nama Gus Dur diabadikan sebagai nama jalan, adalah sebagai bentuk penghargaan warga dan Pemerintah Kabupaten Jombang terhadap Presiden RI ke 4 ini.

Sementara itu, Hj Sinta Nuriyah mengungkapkan terimakasih kepada pemerintah, khususnya Pemkab Jombang yang telah mengabadikan nama Gus Dur menjadi nama jalan utama di kota Jombang. “Kami memang tidak pernah meminta hal-hal seperti ini. Namun bagaimanapun, kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah kabupaten Jombang yang telah mengabadikan nama Gus Dur sebagai nama salah satu jalan utama di kota Jombang,” kata Hj Sinta Nuriyah.

Rangkaian peresmian diakhiri dengan ceramah oleh Wakil Rois Aam PBNU yang juga Pengasuh Ponpes Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa Tengah KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Gus Mus mengungkapkan, Gus Dur sebagai orang besar. Sebagaimana layaknya orang besar, orang memandang Gus Dur sesuai perspektifnya. “Beliau seperti gajah. Orang yang memegang buntutnya, mengatakan gajah seperti ular. Tapi yang memegang kakinya, mengatakan gajah seperti bamboo besar,” kata Gus Mus.

Demikian pula orang memandang Gus Dur. Bagi budayawan, sambung Gus Mus, Gus Dur itu tokoh budaya. Dan bagi politisi, Gus Dur dianggap punya pemikiran-pemikiran kenegaraan yang konsisten dan jauh ke depan.

Bukan yang Pertama

Bupati Hasan saat menandatangani prasasti jalan KH. Abdurrahman Wahid.

Sebelumnya, penggunaan nama Gus Dur sebagai nama jalan sebagai bentuk peng-hargaan, sudah dilakukan oleh Pemkab Probolinggo. Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si meres-mikan jalan KH. Abdurrahman Wahid yang sebelumnya ber-nama Jalan Brigjen Katamso, pada hari Jumat 12 Pebruari 2012.

Peresmian yang ditandai dengan pendatanganan prasasti yang dihadiri oleh calon Dubes RI untuk Keraja-an Maroko H. Tosari Wijaya, Wakil Bupati Probolinggo Salim Qurays, S.Ag, Komandan Kodim 0820 Letkol Arh. Budhi Rianto, Kepala Kejaksaan Negeri Kraksaan Syahpuan, Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan Subiyantoro dan Ketua DPRD Ahmad Badawi serta seluruh anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Sekretaris Daerah Kusnadi dan seluruh kepala satuan kerja dan camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Acara yang dilaksanakan sebelum kegiatan jalan sehat memperingati 40 hari meninggalnya Gus Dur tersebut juga diikuti oleh ribuan masyarakat dari wilayah Kraksaan dan sekitarnya, termasuk siswa sekolah dan karyawan/karyawati instansi pemerintah dan swasta di Kraksaan.

Pada sambutannya saat itu, Bupati Hasan menjelaskan pemberian nama jalan tersebut untuk mengingatkan kita atas jasa-jasa Gus Dur sebagai guru bangsa dan tokoh yang sangat menghargai pluralisme. Gus Dur bukan hanya menjadi panutan umat Islam, namun ketokohannya juga diakui secara luas oleh dunia. “Kita harus bangga memiliki tokoh sebesar Gus Dur. Pemberian nama jalan ini semoga dapat terus mengingatkan kita atas apa yang diperjuangkan dan dicita-citakan beliau”, tegas Bupati Hasan.

Peresmian dilanjutkan dengan jalan sehat dengan start alun-alun Kraksaan menyusuri jalan raya ke arah timur, melewati jalan KH. Abdurrahman Wahid hingga finish kembali di alun-alun Kraksaan. Bupati Hasan dan segenap anggota Muspida serta ribuan peserta yang lain nampak antusias dan bersemangat mengikuti jalan sehat tersebut. Hampir seluruh peserta mengenakan kaos berwarna hitam dengan gambar Gus Dur di bagian depan belakangnya. (tim)

Waspadai Kemacetan di Peterongan Jombang dan Braan Kertosono

Proyek Fly Over di Peterongan membuat ruas jalan menjadi sempit

Jombang, Sergap – Di wilayah Peterongan, Jombang sedang ada pembangunan proyek jembatan layang (fly over) sepanjang satu kilometer, yang dipastikan bakal memacetkan arus lalu lintas kendaraan para pemudik. Titik ini merpakan salah satu titik-titik penyempitan dan kerawanan kemacetan arus kendaraan selama arus mudik Lebaran tahun ini.

“Kemacetan sudah bisa dipastikan akan terjadi dan kami pun siap membantu pemudik agar tetap merasa aman dan nyaman walaupun perjalanan mereka akan tersendat-sendat karena adanya penyempitan jalan dengan adanya proyek fly over,” kata salah seorang anggota polisi lalu lintas yang sedang bertugas di pos Polisi Lalu Lintas (Polantas) Peterongan, Jombang, Selasa (14/8/2012).

Petugas Polantas di lapangan juga mengeluhkan adanya dampak debu yang setiap saat bertebaran dan berterbangan akibat dari pembangunan proyek jalan layang sehingga menggangu kenyamanan selama bertugas mengatur arus lalu lintas kendaraan. “Sekarang ini saja sudah sering macet dan debunya banyak yang bertebaran, apalagi nanti kalau arus mudik Lebaran bertambah padat pasti bertambah macet dan berdebu,” katanya.

Dia berharap agar dinas terkait, termasuk Pekerjaan Umum dan Jasa Marga, segera mengambil langkah dengan upaya penyiraman menggunakan mobil tangki air agar debunya tidak bertebaran dan mengganggu kenyamanan dan kesehatan.

Para pemudik yang melintas di jalan utama selatan juga perlu pula mewaspadai kemacetan yang bakal terjadi di pertigaan/perempatan Mengkreng, Kertosono, Nganjuk. Pasalnya, perempatan Mengkreng menjadi titik pertemuan arus kendaraan lalu lintas dari Surabaya menuju Kediri, Tulungagung ataupun Yogyakarta, atau sebaliknya dari Kertosono menuju Kediri.

Begitu pula pemudik dari arah barat (Yogyakarta) menuju arah timur (Surabaya) yang melintas di perempatan Mengkreng sebaiknya waspada dan berhati-hati serta bersabar menghadapi kemacetan dan jangan saling serobot yang biasanya akan memperparah kemacetan.

“Biasanya kemacetan panjang akan terjadi kalau arus mudik dari Surabaya padat dan dalam waktu bersamaan ada kereta api yang lewat di perlintasan kereta api sebelum Braan,” kata salah seorang petugas polisi lalu lintas di pos polisi lalu lintas Gondang Manis, Jombang.

Kawasan Braan yang berada tidak jauh dari perempatan Mengkreng (Kertosono, Nganjuk) selama ini menjadi pusat penjual aneka jajanan khas Jawa Timur sehingga kerap kali arus lalu lintas tersendat akibat parkir kendaraan pribadi ataupun bus yang sedang menurunkan penumpang atau menunggu calon penumpang.

Kondisi tersebut bakal lebih parah jika di perempatan Mengkreng terjadi kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas kendaraan. (mon)

Berita terkait :   – Fly Over Peterongan Sudah Bisa Dilintasi Pemudik

Marzuki Alie : Orang Miskin Itu Malas

Ketua DPR RI Marzuki Alie

Jombang, Sergap – Komentar aneh dilontarkan lagi oleh Ketua DPR RI Marzuki Alie.  kembali melontarkan komentar nyeleneh. Komentar tersebut diucapkan Marzuki Alie saat menjawab pertanyaan sebagai nara sumber dalam acara seminar yang digelar bersamaan Kongres BEM PTNU se-Indonesia di Unipdu Rejoso, Minggu (8/7/2012).

“Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin. Itu salahnya sendiri, karena dia malas,” kata Marzuki Alie menjawab pertanyaan dari peserta seminar. Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat ini lebih menilai kondisi seperti itu terjadi karena faktor orang miskinnya sendiri.

Saat itu moderator seminar, Zaimudin Asad (Gus Zuem) membuka sesi dialog pertama. Sejumlah mahasiswa langsung bermaksud bertanya, dengan mengacungkan telunjuk jari. Gus Zuem pun lantas memberikan kesempatan pada empat mahasiswa.
Di antara penanya itu ada yang mengkritisi maraknya kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. Termasuk yang dilakukan para anggota DPR RI. “Menurut bapak, sejauh mana korupsi itu berimbas pada munculnya kemiskinan?” tanya si mahasiswa.

Bukannya mengulas soal korupsi yang banyak melibatkan anggota dewan yang dipimpinnya, saat itu Marzuki justru mencoba berkelit dengan mengatakan, tidak ada orang miskin disebabkan orang lain.
“Salah sendiri malas. Kalau mau usaha, pasti tidak miskin,” jelasnya. Tentu saja pernyataan itu berbeda dengan pandangan banyak pihak yang menilai tingginya angka kemiskinan salah satunya disebabkan tidak adanya keadilan dan pemerataan kesejahteraan.
Meski demikian, Marzuki tetap mengajak untuk membantu orang miskin tertentu. “Kalau ada orang miskin karena kekurangan dan keterbatasan, itu tetap harus kita bantu,” ajaknya. Misalnya, orang miskin karena cacat fisik atau sakit sehingga dia tidak bisa mencari nafkah. (mon)

Mulai Waspadai Demam Berdarah

Pergantian musim, nyamuk Aides Aigypti berkembang cepat

Jombang, Sergap – Perubahan musim dari penghujan ke musim kemarau akhir-akhir harus diwaspadai karena perkembangan nyamuk Aides Aigypti justru berkembang cepat. Di wilayah Jombang dalam bulan Januari hingga Juni, DBD (Demam Berdarah Dengue) telah memakan korban dua nyawa balita. Korban terakhir adalah Natasya Arin Deswinta, umur 3,5 tahun, warga Desa Pundong, Kecamatan Diwek.

Haryo Purwono, Kepala Seksi Pemberantas dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Jombang, Jumat (29/6/12) mengatakan, “Korban Natasya meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Jombang pekan kemarin. Saat ini masih ada satu pasien lagi yang menjalani perawatan,” ujarnya.

Nasih menurut Haryo, sejak Januari hingga Juni ini sudah terdapat 175 pasien DBD. Dari jumlah itu, dua di antaranya meninggal dunia. Kondisi itu lebih tinggi dibanding tahun 2011 lalu. “Pada 2011, mulai Januari hingga Juni penderita DBD sebanyak 173 orang. Dari jumlah itu, satu orang dinyatakan meninggal,” tambahnya.

Untuk itu Haryo mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kebersihan meski musim penghujan mulai berakhir. Terutama menutup tempat-tempat yang dijadikan genangan air. Selain itu, Haryo juga berjanji akan terus melakukan pengasapan atau fogging di sejumlah tempat yang dianggap rawan DBD. “Kita sudah mengecek ke Desa Pundong. Dalam waktu dekat ini kami akan menggelar fogging,” pungkasnya.

Gejala yang sama juga terjadi di Bojonegoro. Hanya dalam  dua bulan terakhir ini saja setidaknya sebanyak 22 penderita telah dirawat di Rumah Sakit Aisyah Kabupaten Bojonegoro. Dari jumlah tersebut, satu korban meninggal dunia. Jumlah tersebut terbilang masih sangat tinggi selama Juni 2012.

Pasien yang meninggal dunia seorang balita berinisial KS (2,5) asal Desa Sendangrejo Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. “Kondisi korban saat dibawa kerumah sakit sudah dalam grid 4, atau sudah bahaya. Memang sulit untuk diselamatkan,” kata Humas Rumah Sakit Asyiyah, Totok Sudjarwanto, Selasa (03/06/12).

Totok menambahkan, meskipun dibanding dengan bulan lalu, pasien yang menderita demam berdarah hampir sama. Bulan Mei terdapat penderita sebanyak 12 pasien, Bulan Juni sebanyak 10 pasien dan meninggal 1 korban. “Kita sudah memberikan pelayanan yang terbaik, asal tidak terlambat masih bisa diupayakan penyembuhan,” kata Totok. (mono/sule)

Tulisan terkait :
Demam Berdarah Dengue, Masalah dan Cara Penanggulangannya