Bahasa Ibu yang Semakin Punah

Pemred

Pemred

TAK banyak yang sadar, bahwa setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Sedunia. Hari Bahasa Ibu (Bahasa Daerah) Sedunia adalah peringatan yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999. UNESCO memandang pentingnya setiap bangsa menanamkan kesadaran pendidikan bahasa ibu kepada generasi penerusnya. Di sisi lain, UNESCO menangkap keprihatinan dunia yang terus kehilangan bahasa-bahasa daerahnya. UNESCO memperkirakan sekitar 3.000 bahasa akan punah di akhir abad ini. Hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada tahun 2100 nanti. National Geographic merinci lagi bahwa ada 1 bahasa ibu di dunia yang punah setiap 14 hari.

Bagaimana kondisi Bahasa Ibu/Bahasa Daerah di negeri kita ini? Kurang lebih sama. Di Indonesia terdapat 726 bahasa, dan 719 di antaranya adalah bahasa yang masih ‘hidup’. Namun dari 719 bahasa yang masih ‘hidup’, ternyata tidak semuanya berada dalam kondisi ‘sehat’, karena hanya ditutur oleh 1.000 sampai 5.000 orang.

Sebenarnya, dalam Undang Undang Dasar Tahun 1945, Bab XIII Pasal 32 Ayat 2 menyebutkan bahwa “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.” Adanya UUD ’45 tersebut, mengharuskan setiap warga negara untuk melestarikan bahasa daerah agar terhindar dari kepunahan.

Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kerentanan besar terkait kepunahan bahasa ibu masyarakatnya. Ratusan bahasa daerah semakin kehilangan penutur.

Abdul Rachman Patji, Koordinator Penelitian Bahasa, dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, saat ini pihaknya fokus melakukan penelitian pada bahasa Non Austronesia atau Non Melayu yang diidentifikasikan sebagai bagian dari rumpun bahasa Trans New Guinea yang kondisinya rawan terhadap kepunahan dan harus cepat didokumentasikan. “Saat ini kami sedang meneliti enam bahasa yang terdiri dari bahasa Gamkonora dari Halmahera Barat, bahasa Kao dan Pagu dari Halmahera Utara, bahasa Oirata dari Pulai Kisar, serta bahasa Kui dan Kafoa (Habollat) di Alor Barat Daya,” kata Abdul Rachman Patji, 12 Desember 2012.

pigura 80 clrData UNESCO memaparkan ada 12 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te’un, Tobada’. Jumlah ini diyakini lebih sedikit dari yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terdokumentasikan.

Di samping bahasa-bahasa daerah yang sudah punah, tak kurang ada 47 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah dengan jumlah penutur hanya tersisa 1-100 orang. Bahasa Ibu yang merupakan bahasa lokal Maluku Utara hanya menyisakan 10 penutur di tahun 1997 dan kini patut diduga sudah punah. Sementara Bahasa Longiku (Kalimantan) diketahui hanya memiliki 4 penutur di tahun 2000, Bahasa Lom (Sumatera) menyisakan 10 orang penutur pada tahun 2000. Di Sulawesi bahasa Budong-Budong hanya tinggal dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Nusa Laut pada tahun 1987 penuturnya tinggal berjumlah 10 orang. Di Papua Bahasa Mansim atau Borai menyisakan 5 penutur di tahun 2007.  Bahasa Dusner diketahui hanya memiliki penutur berjumlah 20 orang di tahun 2000.

Pulau Bali yang kehidupan masyarakatnya sangat kental dengan budaya ternyata menyimpan bahaya hilangnya salah satu bahasa ibunya. Bahasa Katakolok teridentifikasi sangat terancam punah karena tinggal memiliki 48 penutur di Bali.

Bahasa Enggano di Sumatera dan bahasa Punan Merah di Kalimantan juga mengalami nasib serupa. Sementara di Sulawesi beberapa bahasa seperti Gorontalo, Waru, Bahousai dan Taje memiliki penutur tak lebih dari 500 bahkan beberapa di antaranya tinggal dituturkan oleh 200 orang. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Globalisasi dan pembangunan yang menepikan kearifan lokal diyakini menjadi penyebab terbesar hilangnya suara-suara indah itu. Arus globalisasi mendorong banyak orang mengganti bahasa ibunya dengan bahasa lain yang dianggap lebih kekinian.

Apa yang menimpa beberapa bahasa ibu di Indonesia dan di dunia tak ubahnya seperti ancaman eksistensi yang dialami oleh Bahasa Indonesia saat ini. Atas nama globalisasi banyak manusia Indonesia mengganti begitu saja bahasanya dengan bahasa Internasional. Di sisi lain Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kerap dipaksakan sebagai bahasa yang harus dituturkan sehari-hari oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri hingga diam-diam menyingkirkan bahasa-bahasa daerah.

Pada dasarnya kehilangan bahasa daerah sama artinya dengan kehilangan spesies-spesies yang ada di bumi. Punahnya bahasa membuat kita akan kehilangan banyak cerita indah tentang dunia.

Sebuah ironi yang menyedihkan ketika ada orang Indonesia yang harus menempuh pendidikan lanjut tentang bahasa Jawa dan Maluku lalu ia harus terbang ke Belanda untuk bisa memahami sejarah bahasa ibunya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s