MJL007 Hacker Situs Presiden SBY Divonis 6 Bulan Penjara

Wildan Yani Ashari alias MJL007

Wildan Yani Ashari alias MJL007

Jember (Sergap) – Akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember memvonis terdakwa, Wildan Yani Ashari (20) peretas (hacker) situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan hukuman 6 bulan penjara. Vonis yang dijatuhkan terhadap pemuda jebolan Sekolah Menengah Kejuruan ini lebih ringan 4 bulan penjara dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni 10 bulan penjara.

“Menyatakan bahwa terdakwa Wildan Yani Ashari alias Yayan alias MJL 007, telah terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak dan melawan hukum, memasuki akses sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun,” kata Hakim Ketua Majelis PN Jember Syahrul Mahmud SH, Rabu (19/6/2013). Majelis hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp 250 ribu subsider 15 hari penjara serta membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp. 5 ribu

Majelis hakim berpendapat bahwa Wildan telah terbukti melanggar Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun ada sejumlah hal yang meringankan yang menjadi pertimbangan majelis hakim. Diantaranya, Wildan tidak pernah dihukum, dan usia Wildan yang masih muda.

“Terdakwa juga mengakui semua kesalahannya, dan kemampuan terdakwa dalam elektronik dan informatika, juga merupakan potensi yang bisa dikembangkan ke arah yang positif,” tambah Syahrul.

Dengan vonis tersebut, Wildan hanya tinggal menjalani masa tahanan selama 5 bulan. Sebab sesuai keputusan majelis hakim, vonis penjara yag diterima Wildan dikurangi masa tahanan pemuda itu selama menjalani proses hukum. Wildan sendiri ditahan sejak tanggal 26 Januari 2013 lalu.

Menanggapi vonis tersebut, Wildan menyatakan menerimanya. Dia mengaku tidak akan melakukan banding. Bahkan pemuda itu berterima kasih karena harapannya mendapat keringanan hukuman sudah terkabul. “Saya terima dan akan saya jalani,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Wildan ditangkap tim Cyber Crime Mabes Polri pada tanggal 25 Januari 2013 sekitar pukul 18.00 WIB, karena meretas situs Presiden SBY. Wildan ditangkap di tempat kerjanya di warnet CV Surya Infotama di Jl. Letjend Suprapto. (mk)

Melanggar Kode Etik, Kapolres Mojokerto Dicopot

AKBP Eko Puji Nugroho, SIK, MH

AKBP Eko Puji Nugroho, SIK, MH

Surabaya (Sergap) – Akhirnya, Komisi Kode Etik Profesi Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan) Polda Jawa Timur mencopot Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mojokerto Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Eko Puji Nugroho dari jabatannya. Pencopotan ini diputuskan setelah Komisi Kode Etik menyatakan ia terbukti melanggar Kode Etik Kepolisian dalam sidang yang digelar hari Rabu (26/6/2013) malam.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Jatim Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Awi Setiyono, menyatakan Eko terbukti melanggar Pasal 7 ayat 1 huruf b Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri. “Yang bersangkutan terbukti melakukan perbuatan yang melanggar kategori tidak patut dilakukan seorang pimpinan,” kata Awi. “Sidang pun memutuskan mutasi yang bersifat demosi, artinya Kapolres Mojokerto dipindah dengan penurunan jabatan”.

Briptu Rani Indah Nugraeni

Briptu Rani Indah Nugraeni

Awi Setiyono menambahkan, dalam sidang yang berlangsung sejak sore hingga pukul 22.00 itu, hakim menghadirkan dan memeriksa seluruh saksi, termasuk Brigadir Satu (Briptu) Rani Indah Nugraeni, selaku korban. Namun, Awi tidak bersedia menjelaskan detail perbuatan Eko terhadap Rani yang dianggap tidak patut oleh persidangan. Dia hanya mengatakan, “Yang bersangkutan melakukan perbuatan tercela dan tidak patut dilakukan seorang pimpinan. Tidak bisa dijelaskan lebih detail karena sudah masuk ke materi persidangan.”

Awi membantah terkait adanya perbuatan pelecehan seksual yang dilakukan Eko. Laporan pelecehan seksual, Awi mengatakan, tidak terbukti. Menurut dia, enam saksi yang hadir dalam persidangan juga menyatakan tidak ada pelecehan seksual. Awi juga membantah Briptu Rani sering diperintahkan untuk menemani makan-makan tamu. “Yang bersangkutan melakukan perbuatan tidak patut, yaitu mengukur baju anak buahnya,” ujar Awi.

Menjawab pertanyaan wartawan, Awi belum bisa memastikan dimutasi ke manakah AKBP Eko Puji Nugroho, karena masih harus menunggu surat keputusan dari Kapolri. Ditambahkan pula oleh Awi bahwa Kapolres Mojokerto itu juga telah menerima putusan sidang komisi kode etik. (ang)

Ketegangan Warnai Pemakaman Bomber Mapolres Poso

Suasana pemakaman pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso

Suasana pemakaman pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso

Lamongan (Sergap) – Pemakaman Zainul Arifin (34th), pelaku peledakan bom bunuh diri Mapolres Poso, Sulawesi Tengah diwarnai dengan kedatangan sekelompok orang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki. Mereka mengenakan baju koko dan sebagian mengenakan rompi.

Mereka datang di  Lingkungan Semangu, Kelurahan Blimbing,  Kecamatan Paciran, Selasa (25/6/2013) menumpang dua kendaraan roda empat berpelat nomor Semarang (H) dan langsung memasang benner berukuran 2,5 x 1, 5  meter dengan menutup papan nama perguruan Muhammadiyah.

Pemasangan benner bergambar dua senjata jenis AK-4 yang bertuliskan huruf Arab kalimat tauhid dan ucapan Selamat Datang Mujahid Poso ini, ditentang oleh sebagian keluarga Zainul Arifin. Namun orang-orang berjenggot itu dengan muka garang, memaksakan untuk memasangan benner itu walau sempat ribut dengan keluarga almarhum Zainal Arifin.

Ada tiga benner yang dipasang, dua di antaranya bertuliskan, “Selamat datang jihad Poso”, “Mati satu tumbuh seribu” dan “Kami semua akan segera menyusulmu”.

”Sebenarnya keluarga tidak menginginkan itu , karena akan memanaskan suasana,”, kata Sis, yang mengaku sebagai adik Zainul Arifin kepada wartawan.

Massa dengan ciri khasnya ini juga seakan menunjukkan dirinya sebagai kelompok yang seolah paling bertanggungjawab dalam semua urusan menyambut kedatangan hingga proses pemakaman. Massa relawan ini kemudian lalu lalang di Jl Pendidikan, tempat kediaman Zainul Arifin.

Beberapa orang diantaranya dengan muka garang, menyisir keberadaan awak media massa dan menyruh wartawan keluar dari Jl Pendidikan. Mereka selanjutnya membentuk barisan yang saling bergandengan tangan memblokir pintu masuk Jl Pendidik yang berjarak dengan rumah duka sekitar 75 meter dengan terus meneriakkan kalimat tauhid dan takbir.

Mereka seolah tidak perduli dengan warga yang hendak masuk Jl Pendidikan, termasuk para awak media massa yang hendak masuk meliput. Salah seorang dari mereka berulang-ulang menginstruksikan tidak ada orang lain, kecuali mereka yang sudah ditunjuk untuk mengangkat dan mengusung jenazah dalam peti. ”Termasuk para wartawan nanti juga tidak boleh masuk,” kata orang berjenggot itu .

Pukul  10. 30 WIB, mobil ambulan yang mengangkut jenazah Zainul Arifin muncul dari arah barat. Kalimat takbir dan tauhid terdengar bertambah keras. Peti jenazah Zainul diturunkan dari ambulan dan langsung diusung oleh mereka ke rumah duka.

Sempat terjadi keributan antara massa berjenggot dengan warga yang melayat. Relawan menghadang dan mendorong semua orang yang ingin masuk ke Jl Pendidikan. Dan warga memilih mengalah setelah melihat kegarangan massa yang konon datang dari Semarang, Madura, Pekalongan, Bandung itu.

Setelah disemayamkan sekitar satu jam, jenazah lalu disolatkan di Masjid Darussalam dan orang yang dianggap tidak berkepentingan dilarang mendekat oleh massa berciri khusus itu. Saat jenazah diangkat dari peti dan dimasukkan ke liang lahat satu diantara mereka mengomando dengan lafal takbir. Setelah usai pemakaman, mereka membakar peti jenazah, tidak jauh dari situ.

Suasana tegang dalam pemakaman pelaku bom Mapolres Poso ini tak diduga sama sekali oleh warga sekitarnya. Toha Mansur, Kepala Kelurahan Blimbing mengaku tidak tahu menahu, perihal pemakaman tersebut. “Yang pasti tiap kampung ada kumpulan kematian yang bertugas mulai mengurusi masalah merawat jenasah. Namun dalam kasus ini saya tidak tahu,” terangnya. Kepala Kelurahan ini juga tidak bisa memastikan dari kelompok siapa yang mengatur pemakaman tersebut, yang pasti pihak kelurahan telah memberi ijin untuk menerima korban dimakamkan di pemakaman setempat.

Sekitar 100 orang personil polisi berseragam maupun tidak, telah dikerahkan guna mengamankan pemakaman bomber Mapolsek Poso tersebut.  Wakapolres Lamongan Kompol Yudistira yang berada di sekitar lokasi pemakaman mengatakan, pihaknya hanya melakukan pemantaun. “Kita selaku Polri sudah menyerahkan pada keluarga di Jakarta namun karena mereka meminta pengamanan ya kita bantu dari jauh,” ujarnya. (sule/ang)

Siaran Pers AJI Jakarta: Perkosaan Terhadap Wartawati

aji logo

 

 

 

 

 

Stop kekerasan berulang terhadap korban perkosaan, Stop media massa mengobjek-kan perempuan korban perkosaan

Jumat, 21 Juni 2013
Siaran Pers AJI Jakarta
No. 106/ AJIJAK/ VI/ 2013

Mendesak Perlindungan Identitas Korban dan Pengusutan Kasus Perkosaan
Jurnalis Perempuan

JAKARTA – Jurnalis perempuan begitu rentan terhadap kekerasan dalam menjalankan tugasnya. Kejadian perkosaan yang menimpa seorang jurnalis perempuan oleh pria tak dikenal, pada Kamis (20/6) di Jakarta Timur, menyentakkan kita akan besarnya risiko dan pertaruhan keselamatan jurnalis perempuan.

Terhadap kejadian tersebut AJI Jakarta menyatakan:
1. Mengutuk perkosaan yang terjadi dan menuntut pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas dan menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan keji tersebut.

2. Tanpa mengurangi esensi pemberitaan, AJI Jakarta meminta kepada seluruh media agar memberitakan kasus tersebut dalam perspektif kepedulian terhadap korban. Perlindungan identitas korban harus diutamakan; jangan menuliskan nama, alamat, ciri-ciri fisik, dan hal lain yang mengarahkan kepada identitas korban tanpa persetujuan yang bersangkutan. Selain karena kasus perkosaan merupakan peristiwa yang mengakibatkan kepada korban trauma, penyebutan identitas dan ciri fisik korban akan mengaburkan fokus pada kejahatan yang terjadi.

3. AJI Jakarta mengimbau kepada perusahaan untuk memberikan perlindungan
kepada jurnalisnya saat melakukan peliputan, khususnya pada malam hari. Perusahaan media juga perlu ikut membantu pemulihan korban dari trauma, misalnya dengan pendampingan konseling.

4. Kepada jurnalis perempuan, AJI Jakarta mengimbau agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menjaga keselamatan diri dalam menjalankan tugas dalam kondisi apa pun. Sebagai jurnalis dan sebagai perempuan, risiko kekerasan yang dihadapi jurnalis perempuan menjadi berlipat.

Demikian siaran pers kami ini.

Untuk informasi dapat menghubungi:

Kustiah, Koordinator Divisi Perempuan AJI Jakarta, <08159613469> +08170565654 
Umar Idris, Ketua AJI Jakarta, < 0818111201> 

Ketika Bung Karno Menggebrak Dunia

lipsus 82 cvrPERCAYA DIRI, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Presiden Soekarno saat itu. Terlalu banyak catatan kecil dimana Presiden Soekarno mendobrak Protokoler International untuk mengikuti Protokoler ala Soekarno. Jangankan hanya di Negara kelas 3, Amerikapun harus mampu menekan dada atas dobrakan yang dilakukan oleh Presiden Soekarno. Maka tak heran apabila setiap kunjungan kenegaraan ke berbagai negara sosok Presiden Soekarno selalu menjadi head line berita di berbagai media massa dunia, tak terkecuali ketika tampil di lembaga besar seperti PBB.

Dengan baju kebesaran berwarna putih, lengkap dengan kopiah dan kacamata baca, Bung Karno tidak mempedulikan protokoler Sidang Umum. Biasanya, setiap kepala negara berpidato sendiri saja. Tetapi, untuk pertama kalinya, Bung Karno naik ke podium didampingi ajudannya, Letkol (CPM) M Sabur, berpidato di depan Sidang Umum PBB ke 15 tanggal 30 September 1960 dengan judul “Membangun Dunia Baru”.

Lima tahun kemudian, per tanggal 1 Januari 1965, Bung Karno menyatakan Indonesia keluar dari PBB. Ia memrotes penerimaan Malaysia, antek kolonialisme Inggris, menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK)-PBB. Ketika mendengar instruksi Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu dari Perwakilan Tetap RI untuk PBB di New York, Sekjen PBB U Thanh menangis sedih, tak menyangka BK begitu marah dan kecewa.

Bung Karno dikenal sering kecewa dengan kinerja DK-PBB. Sampai sekarang pun kewenangan DK-PBB yang terlalu luas masih sering terasa kontroversial. Misalnya, terutama AS, Inggris dan Perancis, bersama Sekjen Koffi Annan, menjatuhkan sanksi-sanksi tak berperikemanusiaan atas Irak.

Sudah lama memang Bung Karno tidak menyukai struktur PBB yang didominasi negara-negara Barat, tanpa memperhitungkan representasi Dunia Ketiga yang sukses unjuk kekuatan dan kekompakan melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Memprediksi kebesaran Cina

Untuk itulah, setiap tahun Bung Karno coba mengoreksi ketimpangan itu dengan memperjuangkan diterimanya Cina, yang waktu itu masih diisolasi oleh negara-negara Barat.

“Kita menghendaki PBB yang kuat dan universal, serta dapat bertugas sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itulah, kami konsisten mendukung Cina,” kata Bung Karno. Wawasan berpikir Bung Karno waktu itu ternyata benar. Cina bukan cuma lalu diterima sebagai anggota, namun juga menjadi salah satu anggota tetap DK-PBB. Puluhan tahun lalu, Bung Karno sudah memproyeksikan Cina sebagai negara besar dan berpengaruh, yang harus dilibatkan dalam persoalan-persoalan dunia. Dewasa ini, Cina sudah memainkan peranan penting dalam mengoreksi perimbangan kekuatan regional dan internasional, bahkan menjadi kekuatan ekonomi dunia yang mengalahkan dunia barat dan Jepang.

Kini hampir semua warga dunia sudah familiar dengan kata “globalisasi” atau saling keterkaitan (linkage) antar-bangsa, baik secara politis maupun ekonomis. Dan dalam pidato To Build the World Anew, Bung Karno sudah pernah mengucapkannya. “Adalah jelas, semua masalah besar di dunia kita ini saling berkaitan. Kolonialisme berkaitan dengan keamanan; keamanan juga berkaitan dengan masalah perdamaian dan perlucutan senjata; sementara perlucutan senjata berkaitan pula dengan kemajuan perdamaian di negara-negara belum berkembang,” ujar Sang Putra Fajar.

Di mana pun di dunia, Bung Karno tak pernah lupa membawakan suara Dunia Ketiga dan aspirasi nasionalisme rakyatnya sendiri. Siapa pun yang tidak suka kepadanya pasti akan mengakui sukses Bung Karno memelopori perjuangan Dunia Ketiga melalui Konrefensi Asia-Afrika atau KTT Gerakan Non Blok. Inilah Soekarno yang serius.

Memarahi Presiden Amerika

Jika sedang santai dalam saat kunjungan ke luar negeri, Bung Karno menjadi manusia biasa yang sangat menyukai seni. Kemana pun, yang tidak boleh dilupakan dalam jadwal kunjungan adalah menonton opera, melihat museum, atau mengunjungi seniman setempat. Hollywood pun dikunjunginya, ketika Ronald Reagan dan Marilyn Monroe masih menjadi bintang film berusia muda.

Ia pun tak segan memarahi seorang jenderal besar jago perang, Dwight Eisenhower, yang waktu itu menjadi Presiden AS dan sebagai tuan rumah yang terlambat keluar dari ruang kerjanya di Gedung Putih dalam kunjungan tahun 1956. Sebaliknya, Bung Karno rela memperpanjang selama sehari kunjungannya di Washington DC, setelah mengenal akrab Presiden John F Kennedy.

Akrab dengan media massa

Waktu berkunjung ke AS, banyak wartawan kawakan dari harian-harian besar di Amerika, mulai dari The New York Times, The Washington Post, LA Times, sampai Wall Street Journal-menulis dan memuat pidato dan pernyataannya yang menggugah, foto-fotonya yang segar, sampai soal-soal yang mendetail dari Bung Karno.

Kunjungan-kunjungannya ke luar negeri, memang membuat Bung Karno menjadi tokoh Dunia Ketiga yang selalu menjadi sorotan internasional. Sikapnya yang charming dan kosmopolitan, kegemarannya terhadap kesenian dan kebudayaan, pengetahuannya mengenai sejarah, bahasa tubuhnya yang menyenangkan, mungkin menjadikan Bung Karno menjadi tamu agung terpenting di abad ke-20, yang barangkali cuma bisa ditandingi oleh Fidel Castro atau JF Kennedy.

Politik bebas aktif

Perumusan politik luar negeri sebuah negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia Kedua, lebih banyak dipengaruhi oleh kepala negara/pemerintahan. Mereka sangat berkepentingan untuk menjaga negara mereka masing-masing agar tidak terjerumus ke dalam persaingan ideologis dan militer Blok Barat melawan Blok Timur. Lagi pula, netralitas politik luar negeri semacam ini waktu itu berhasil menggugah semangat “senasib dan sepenanggungan” di negara-negara baru Asia dan Afrika, untuk menantang bipolarisme Barat-Timur melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Di Indonesia, peranan Bung Karno dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, jelas sangat dominan sejak ia mulai memerintah sampai akhirnya ia terisolasi menyusul pecahnya peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965. Ia bahkan menjadi salah satu founding father pembentukan Gerakan Nonblok (GNB) sebagai kelanjutan dari Konferensi Bandung. Penting untuk digarisbawahi pula, Bung Karno pada awalnya menjadi satu-satunya pemimpin Dunia Ketiga yang dengan sangat santun menjalin serta menjaga jarak hubungan yang sama dan seimbang, dengan negara-negara Barat maupun Timur.

Hubungan Bung Karno dengan Washington pada prinsipnya selalu akrab. Akan tetapi, Bung Karno merasa dikhianati dan mulai bersikap anti-Amerika ketika pemerintahan hawkish Presiden Dwight Eisenhower mulai menjadikan Indonesia sebagai tembok untuk membendung komunisme Cina dan Uni Soviet pada paruh kedua dasawarsa 1950. Sewaktu Moskwa dan Beijing terlibat permusuhan ideologis yang sengit, Bung Karno juga relatif mampu menjaga kebijakan berjarak sama dan seimbang (equidistance) terhadap Cina dan Uni Soviet.

Bersama PM Chou En Lay, Presiden JF Kennedy, PM Fidel Castro dan Presiden Nikita Kruschev. Perhatikan sikap dan bahasa tubuhnya Bung Karno yang sangat percaya diri

Bersama PM Chou En Lay, Presiden JF Kennedy, PM Fidel Castro dan Presiden Nikita Kruschev. Perhatikan sikap dan bahasa tubuhnya Bung Karno yang sangat percaya diri

Lagi pula, Bung Karno dengan sangat pandai menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bobot Indonesia sebagai negara yang besar dan strategis, peranan penting Indonesia dalam menggagas GNB, dan posisi “soko guru” sebagai negara yang baru merdeka, benar-benar dimanfaatkannya sebagai posisi tawar yang cukup tinggi dalam diplomasi internasional. Oleh sebab itulah, pelaksanaan politik luar negeri yang high profile ala Bung Karno, tidak pelak lagi, membuat suara Indonesia terdengar sampai ke ujung dunia.

Mengapa ia akhirnya kecewa kepada Washington sehingga hubungan bilateral AS-Indonesia semakin hari semakin memburuk? Sebab Bung Karno tahu persis sepak terjang AS-juga Inggris, Australia dan Malaysia-ketika membantu pemberontakan PRRI-Permesta. Lebih dari itu, setelah kegagalan pemberontakan itu, Pemerintah AS memasukkan Bung Karno dalam daftar pemimpin yang harus segera dilenyapkan karena menjadi penghalang containment policy Barat terhadap Cina. Juga ada beberapa alasan domestik yang membuat Washington kesal terhadap Bung Karno, seperti sikapnya kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada lima tahun pertama dekade 1960, hubungan Indonesia dengan Cina meningkat pesat. Mao Zedong sangat menghormati Bung Karno yang memberikan tempat khusus kepada komunis, dan sebaliknya Bung Karno mengagumi perjuangan Mao melawan dominasi AS dan Rusia di panggung internasional. Istimewanya hubungan Bung Karno dengan Mao ini tercermin dari gagasan pembentukan Poros Jakarta-Beijing. Bahkan kala itu poros ini sempat akan diluaskan dengan mengajak pemimpin Korut Kim Il-sung, pemimpin Vietnam Utara Ho Chi Minh, dan pemimpin Kamboja Norodom Sihanouk.

Tatkala memutuskan untuk keluar dari PBB, Bung Karno mencanangkan pembentukan New Emerging Forces sebagai reaksi terhadap Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Ia juga bercita-cita membentuk sendiri forum konferensi negara-negara baru itu di Jakarta, sebagai reaksi terhadap dominasi PBB yang dinilainya terlalu condong ke Barat. Sungguh patut disayangkan, wadah kerja sama Dunia Ketiga ini hanya sempat bergulir sampai pesta olahraga Ganefo belaka.

Seperti telah disinggung di atas, dominasi Bung Karno dalam perumusan politik luar negeri yang bebas dan aktif, sangat dominan. Persepsi, sikap, dan keputusan Bung Karno dalam mengendalikan diplomasi Indonesia, bersumber pada pengalaman-pengalamannya dalam kancah perjuangan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mungkin karena terlalu banyak krisis yang dihadapi Bung Karno selama ia memimpin, membuat pelaksanaan politik luar negerinya menjadi high profile dan agak bergejolak.

Akan tetapi, gejolak-gejolak tersebut, juga sikap Bung Karno menghadapi politik Perang Dingin, tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kelemahan ataupun penyimpangan dari politik luar negeri yang bebas aktif. Justru yang terjadi, Bung Karno senantiasa mencoba menghadirkan gagasan-gagasannya tentang dunia yang damai dan adil, dengan mengedepankan posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah yang menyuarakan nasib Asia dan Afrika.

Penting pula untuk ditegaskan, perilaku internasional Bung Karno pada kenyataannya memang berhasil mengangkat derajat masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga dalam menghadapi kemapanan politik Perang Dingin. Malahan jika menghitung akibatnya, ada kekhawatiran besar di negara-negara adidaya terhadap internasionalisasi Sukarnoisme yang akan membahayakan posisi mereka.

Jika berbicara mengenai sumber-sumber yang mempengaruhi “politik global” Bung Karno, sesungguhnya mudah untuk memahaminya. Ia lahir dari persatuan antara dua etnis, Bali dan Jawa Timur. Ia menikahi pula gadis dari Pulau Sumatera. Ia beberapa kali dipenjarakan penjajah Belanda di berbagai tempat di Nusantara, membuatnya mengenal dari dekat kehidupan berbagai
etnis. Pendek kata, ia lebih “Indonesia” ketimbang menjadi seorang yang “Jawasentris.”

Dalam pandangan Bung Karno, dunia merupakan bentuk dari sebuah “Indonesia kecil” yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dan ini betul. Bung Karno seakan-akan membawa misi untuk membuat agar semua bangsa berdiri sama tinggi dan setara di dunia ini, sama dengan upayanya berlelah-lelah mempersatukan semua suku bangsa menjadi Indonesia. Meskipun Indonesia cuma menyandang kekuatan menengah, Bung Karno sedikit banyak memiliki sebuah “visi dunia” seperti para pemimpin negara adidaya, yang waktu itu merupakan sebuah utopia belaka.

Pengalaman pahit menghadapi penjajah Belanda serta Jepang, merupakan sumber utama bagi Bung Karno untuk membawa Indonesia menjadi Anti Barat di kemudian hari. Kebijakan anti komunisme yang dijalankan Barat untuk membendung pengaruh Uni Soviet, menurut Bung Karno merupakan sebuah pemasungan terhadap sebuah penolakan terhadap hak kesetaraan semua bangsa di dunia untuk bersuara. Persepsi Bung Karno mengenai perjuangan GNB pun serupa, yakni memberdayakan Dunia Ketiga untuk mengikis ketimpangan antara negara-negara kaya dengan yang miskin.

Pejuang dunia ketiga

Pada hakikatnya, wawasan Bung Karno tentang perlunya memperjuangkan ketidakadilan internasional itu, masih relevan dengan situasi politik dan ekonomi global saat ini. Entah sudah berapa banyak dibentuk fora-fora kerja sama politik dan ekonomi internasional, yang masih gagal menutup kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin, seperti Dialog Utara-Selatan, atau G-15. Sampai saat ini pun, PBB masih belum melepaskan diri dari genggaman kepentingan-kepentingan negara-negara Barat di Dewan Keamanan.

Andaikan saja Bung Karno tidak tersingkir dari kekuasaan, apa yang sesungguhnya telah ia lakukan dalam ruang lingkup politik global? Mungkin saja, satu-satunya kegagalan-kalaupun itu layak disebut sebagai kegagalan-adalah ingin menantang atau mengubah (to challenge) tata dunia yang “stabil” pada masa itu.

Stabilitas, atau equilibrium global pada saat itu, suka atau tidak, diatur oleh perimbangan kekuatan antara Barat dengan Timur. Kedua blok yang berseteru meyakini bahwa perdamaian abadi hanya bisa dicapai dengan sebuah lomba senjata yang seimbang, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Pengaturan perimbangan kekuatan itu bersifat pasti, matematis, dan mengamankan dunia dari ancaman instabilitas. Itulah jadinya pembentukan NATO dan Pakta Warsawa, serta perjanjian hot line dan anti-tes senjata nuklir antara JF Kennedy dengan Nikita Kruschev. Stabilitas global AS-Uni Soviet inilah yang juga menjamin peredaan ketegangan dan tercegahnya perang antara Eropa Barat dengan Eropa Timur, antara Korut dan Korsel di Semenanjung Korea, antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan di daratan Asia Tenggara, dan antara Kuba dengan AS.

Pada prinsipnya, akan selalu ada pemimpin yang ingin mengubah stabilitas semu semacam ini. Upaya-upaya yang membahayakan kemaslahatan perimbangan kekuatan tersebut, akan selalu menimbulkan krisis politik atau krisis militer. Bagi para penjamin stabilitas, seorang Bung Karno memang hanya merupakan sebuah ancaman yang akan menimbulkan krisis politik, bukan krisis militer. Oleh sebab itulah perlu ditekankan sekali lagi, pihak-pihak Barat-khususnya AS dan Inggris-sudah sampai pada kesimpulan bahwa Bung Karno mesti dilenyapkan.

Sayang sekali, inisiatif-inisiatif diplomasi Bung Karno terhenti di tengah jalan saat ia diisolasi dari kekuasaannya. Betapapun, banyak doktrin dari politik luar negeri yang dijalankannya, dilanjutkan oleh para penggantinya. Warisan Bung Karno bukan hanya menjadi diorama yang bagus dilihat-lihat, tetapi juga masih kontekstual untuk zaman-zaman selanjutnya.

Tidak pada tempatnya bagi kita untuk menyesali politik luar negeri Bung Karno, seperti yang pernah dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Apakah kebijakan lebih buruk ketimbang politik luar negeri yang cuma mengemis-ngemis bantuan luar negeri? Apakah melepas Timor Timur juga merupakan kebijakan yang lebih baik? Apakah berwisata ke luar negeri tanpa tujuan, lalu mendengang-dengungkan poros Cina-Indonesia-India juga lebih hebat dari politik global Bung Karno?

Dunia yang lebih adil

Sesuai dengan julukan Sang Putra Fajar, Bung Karno membuka matanya melihat terang benderang dunia saat fajar menyising, tatkala sebagian dari kita masih terlelap menutup mata. Dunia versi Bung Karno adalah dunia yang mutlak harus berubah menjadi tempat yang lebih adil dan setara bagi semua. Kita pernah beruntung memiliki seorang duta bangsa, yang sekaligus juga seorang diplomat terulung yang pernah dimiliki Indonesia.

Sebagai penerus sejarah bangsa ini, kita hanya mampu bertanya “Apakah masih mungkin akan terlahir kembali sosok pemimpin yang setara Bung Karno?” Sejarah yang akan menjawabnya. DIPERSEMBAHKAN DALAM RANGKA BULAN BUNG KARNO 2013. (Tkr-dari berbagai sumber)

 Naskah lengkap Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke 15 tanggal 30 September 1960 dengan judul “Membangun Dunia Baru”.

24 Pilkades Serentak di Kabupaten Kediri

Pendaftaran Calon Kepala Desa sudah dimulai di Desa Dukuh Ngadiluwih

Pendaftaran Calon Kepala Desa sudah dimulai di Desa Dukuh Ngadiluwih

Kediri (Sergap) – Pemerintah Kabupaten Kediri pada bulan Juli 2013 menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)  di 24 desa yang ada di 13 kecamatan.

Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Kediri, H. Satirin melalui Kabid Pemerintahan Agus Cahyono mengatakan Pilkades dilaksanakan pada tanggal 3 Juli dan 6 Juli 2013.  Dari 24 Desa sebanyak 22 Desa Pilkades dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2013, yaitu Desa Dukuh  Kecamatan Ngadiluwih,  Desa Kras Kecamatan Kras, Desa Kandat dan Desa Ngreco Kecamatan Kandat, Desa Gabru, Desa Tirukidul dan Desa Adan-adan Kecamatan Gurah. Desa Kwaron dan Desa Dawuhankidul  Kecamatan Papar Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu, Desa Panjer, Desa Plosokidul dan Desa Donganti Kecamatan Plosoklaten, Desa Sonorejo dan Desa Bakalan Kecamatan Grogol, Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem, Desa Bulu Kecamatan Semen, Desa Kepung, Desa Kampungbaru dan Desa Siman Kecamatan Kepung. Desa Blawe dan Desa Bulu Kecamatan Purwoasri.

Sedangkan untuk 2 Desa di laksanakan Pilkades pada tanggal 6 Juli 2013  dua Desa tersebut Desa Wates  Kecamatan Wates dan Desa Woromarto Kecamatan. Purwoasri.

“Pilkades sengaja dilaksanakan bersama-sama untuk mengurangi kemungkinan terjadinya perjudian botoh di dalamnya”, kata Agus Cahyono. Ia juga berharap pesta demokrasi di tingkat desa ini dapat berlagsung jujur dan adil. (EdyS)

 

Adipura Lagi Untuk Kota Wlingi Kabupaten Blitar

 Piala Adipura Kencana 2013 tampak sedang dibanggakan oleh Bupati Herry Noegroho dan Wabup Rijanto


Piala Adipura Kencana 2013 tampak sedang dibanggakan oleh Bupati Herry Noegroho dan Wabup Rijanto

Blitar (Sergap) – Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar kembali merasa lega dan bangga karena kerja keras selama ini tidak sia–sia. Hasilnya Kabupaten Blitar sukses kembali membawa Piala Adipura untuk ke–10 kalinya, untuk Kota Wlingi sebagai Kota Kecil terbersih tahun 2013. Penghargaan ini berdasar Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No.192 tahun 2013 tentang Penghargaan Adipura.

Piala diserahkan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yodoyono pada tanggal 10 Juni 2013 di Istana Negara, bersama sekitar 142 Kota lain seluruh Indonesia dari berbagai kategori, baik kategori kota metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil.

Bupati Blitar H. Herry Noegroho mengatakan bahwa penghargaan ini adalah support untuk lebih membangun dan berbenah. Kabupaten Blitar yang memiliki 22 Kecamatan ini juga pernah meraih penghargaan lain di antaranya dibidang Penataan Transportasi, Ketahanan Pangan dan lain – lain.

“Harapan ke depan Kabupaten Blitar dapat memboyong Adipura Kencana”, kata bupati bersemangat. Selanjutnya Kang Herry -sapaan akrab Bupati Blitar- menambahkan bahwa berbagai prestasi ini harus menjadi penyemangat kecamatan – kecamatan yang lain untuk segera berbenah, memperbaiki kualitas pelayanan dan fasilitas untuk masyarakat. Sehingga mampu mengikuti jejak Kecamatan Wlingi yang rutin meraih penghargaan tingkat nasional ini. “Ini dapat menjadi semangat dan motivasi bagi kecamatan yang lain untuk mampu meraih prestasi yang sama, kita berharap Kota Wlingi nantinya mampu meraih Adipura Kencana”, kata Kang Herry berpesan.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar , Ir. M. Krisna Triatmanto, M.Si mengatakan bahwa Kota Wlingi mendapat Adipura sebelum Reformasi 4 kali (1992–1993, 1993–1994, 1994 –1995 dan, 1995–1996) dan setelah Reformasi selama 6 kali (2006–2007, 2007–2008, 2008– 2009, 2009–2010, 2011–2012 dan 2012–2013).

Dengan keberhasilan Kota Wlingi mendapatkan Adipura setiap tahun, maka kebersihan dan keasrian lingkungan perkotaan akan dikembangkan ke setiap ibukota kecamatan, melalui Gerakan Memasyarakatkan Adipura (GEMA ADIPURA) dan Lomba Kebersihan dan Keasrian Ibukota Kecamatan, yang telah dilakukan sejak tahun 2008 dengan kriteria penilaian baik fisik maupun non fisik.

Membagi kiat tentang sukses meraih Adipura, M Krisna Triatmanto menjelaskan kuncinya adalah menggerakkan seluruh warga yang dikoordinasikan melalui Satgas Bangun Praja Wibawa Kota Wlingi, yang terdiri dari unsur–unsur warga masyarakat yang peduli atas kebersihan dan keasrian Kota Wlingi.

Juga dilakukan perbaikan terus menerus fasilitas umum, yang berinovasi dalam pengelolaan lingkungan dengan membangun instalasi Pengelolaan Sampah Plastik menjadi BBM di TPA Tegalasri. Serta Bank Sampah di lingkungan perumahan di Kota Wlingi. Sampai saat ini sudah ada 5 Bank Sampah sebagai bentuk Pengelolaan Sampah Mandiri.

“Partisipasi masyarakat sangat besar dalam meraih penghargaan Adipura, mereka telah sadar memilah sampah sejak dari rumah tangga, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Selain itu setiap lingkungan Permukiman telah mengembangkan kawasan hijau, di mana setiap rumah memanfaatkan lahan pekarangan dengan tanaman organik/sayuran dalam polybag serta menambah penanaman tanaman hias dalam pot–pot”, jelas Krisna.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Krisna bahwa untuk menuju Adipura Kencana, Pemkab Blitar akan membangun instalasi 3R di Lingkungan Majegan Kelurahan Wlingi, Lingkungan Kromasan Kelurahan Beru.

Juga terus menyempurnakan ruang terbuka hijau (RTH) Kota Wlingi sebagai paru-paru kota dan pusat kegiatan masyarakat yang rekreatif, dengan menambah sarana prasarana permainan anak, jogging track, air mancur, lapangan senam, taman keanekaragaman hayati, rumah kompos yang dapat dijadikan sarana pembelajaran lingkungan.

Untuk diketahui bahwa Program Adipura merupakan Program Kementrian Linkungan Hidup yang dilaksanakan oleh Deputi Bidang Pengelolaan B3, Limbah B3 dan Sampah. Inti Pelaksanaan Program Adipura adalah Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Lingkungan Perkotaan, berdasarkan kriteria dan indikator yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana daerah telah mencapai Tata Kepemerintahan yang baik dalam Pengelolaan Lingkungan Perkotaan. Dan salah alah satu sasaran program Adipura adalah menciptakan kota yang cerdas, manusiawi dan ekologis. (oke-adv)