Pesta Kambing Guling Usai Proyek Amburadul

Tabloid Sergap telah dua kali memberitakan tentang DAK Bidang Pendidikan Kabupaten Kediri Tahun Anggaran 2011, yaitu pada Edisi 69 dengan judul “Amburadulnya Pelaksanaan DAK Pendidikan Kabupaten Kediri 2011” yang memberitakan betapa serampangannya pengerjaan rehab ruang belajar di sebagian besar Sekolah Dasar Negeri-Sekolah Dasar Negeri dan pada Edisi 70 dengan judul “Dugaan Korupsi Menyengat” yang memberitakan penyebab terjadinya pelaksanaan rehab yang semrawut itu, yang diduga kuat karena Dikpora Kabupaten Kediri memaksakan diri untuk menentukan nilai proyek  di bawah Rp. 200 juta supaya dapat menggunakan cara Pemilihan Langsung (PL). Mungkin karena menganggap telah sukses melaksanakan DAK Pendidikan 2011, beredar SMS undangan untuk melakukan acara Temu Kangen dan Evaluasi Kerja 2011 di Hotel Songgoriti Batu pada 10 dan 11 Februari 2012 bersama Partner Kerja Dikpora Kabupaten Kediri yang juga diisi dengan acara ramah tamah, rendam air panas, outbound dan kambing guling.

Undangan ke Hotel Songgoriti melalui SMS

Undangan ke Hotel Songgoriti melalui SMS

Kesan yang ditimbulkan dari acara akhir pecan di kawasan wisata berudara dingin tersebut, tampak lebih bernuansakan sebuah pesta. Sebuah pesta yang lazimnya dilaksanakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Semoga bukan pesta syukuran, karena Tabloid Sergap melihat pelaksanaan DAK Bidang Pendidikan Kabupaten Kediri Tahun Anggaran 2011, menghasilkan keamburadulan.

SMS yang beredar di kalangan para rekanan/kontraktor tersebut tulisan aslinya adalah : Temu kangen n evaluasi kerja thn 2011 tgl 10-11 di hotel Songgoriti bersama partner kerja dikpora, brgkt jam 1 siang dr SLG, biaya 500rb per org,acr ramah tamah, rendam air panas, outbond, kambing guling, yg mo ikut daftar ke ida/yuli, batas pendaftaran tgl 6 pebruari 2012.

Namun, acara di Hotel Songgoriti yang undangannya melalui SMS tersebut, dibantah dengan tegas keberadaannya oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) DAK Pendidikan 2011 Kabupaten Kediri, Drs. Sunaryo, MPd. “Tidak tahu, tidak ada rencana itu”, jawabnya melalui SMS tanggal 06-02-2012 jam 10.01 WIB.

Dan ketika Tabloid Sergap mengirim SMS, “Info kami dari orang dalam pak. Pendaftaran ke Ida atau Yuli, batas akhir Senin, 6 Feb 2012”. Dibalas oleh Sunaryo, “Trim, tak cek dulu!”. Selanjutnya sampai dengan berita ini ditulis tidak ada lagi penjelasan dari hasil pengecekan itu.

Pejabat Pengguna Anggaran (PPA) DAK Pendidikan 2011 Kabupaten Kediri, Drs. Djoko Pitojo, MPd, ketika dikonfirmasi via SMS juga membantah jika ada acara di Songgoriti itu. “Maaf tidak ada agenda itu”, jawabnya melalui SMS tanggal 06-02-2012 jam 12.58 WIB.

Memang, ketika Tabloid Sergap melakukan pengecekan pada hari Jumat, 10 Pebruari 2012 dan menunggu dari jam 12.30-14.00 WIB baik di Simpang Lima Gumul (SLG) maupun di kantor Dikpora, tidak terlihat rombongan yang akan berangkat ke Songgoriti.

Di kantor Dikpora memang banyak orang berkumpul, yang ternyata adalah para kepala sekolah yang katanya akan mengikuti sosialisasi bantuan Block Grant dari Pemprov Jawa Timur. Mereka mengatakan sudah menunggu lama. “Kita sudah menunggu sejak pagi mas..”, kata salah seorang kepala sekolah itu.

Ketika Tabloid Sergap mencari tahu tentang keberadaan Kasubdin TK/SD dan Kepala Dikpora, mendapat jawaban bahwa Pak Sunaryo dan Pak Djoko Pitojo tidak ada di kantornya.

Seminggu sebelumnya, Tabloid Sergap mendapatkan sejumlah informasi tentang penolakan-penolakan oleh sekolah (kepala sekolah dan/atau ketua komite sekolah) yang menerima proyek Rehabilitasi Ruang Kelas Rusak Sedang, karena  rehab ruang belajarnya serampangan dan tidak tuntas.

Diminta tanggapannya tentang hal ini, Drs. Sunaryo, MPd selaku PPK DAK Pendidikan Kabupaten Kediri Tahun Anggaran 2011, mengumpulkan 9 orang kepala sekolah untuk dipertemukan dengan Tabloid Sergap pada hari Rabu, tanggal 1 Februari 2012 di ruang kerjanya.

Karena dipertemukan langsung dengan para kepala sekolah, ketika itu Tabloid Sergap mengira bisa melakukan konfirmasi langsung dengan mereka. Ternyata tidak. Tabloid Sergap tampaknya hanya diminta untuk menyaksikan ketika para kepala sekolah ditanya oleh Sunaryo, apakah benar mereka menolak hasil rehab DAK Pendidikan 2011.

Tentu saja, para kepala sekolah itu menjawab tidak ada penolakan. Padahal salah satu kepala SD yang  juga hadir di ruang itu, tak lama sebelumnya ketika dihubungi melalui hapenya, mengatakan bahwa ruang belajar di sekolahnya rehabnya sangat mengecewakan.

Namun di hadapan Drs. Sunaryo, MPd yang juga menjabat sebagai Kepala Subdin TK/SD, kepala SD tersebut menjawab bahwa rehab ruang belajar di sekolahnya baik-baik saja. Sebuah sikap yang bisa dimaklumi.

Kehadiran 9 Kepala SD tersebut selisih satu jam dengan jam perjanjian bertemu yang telah disepakati oleh Tabloid Sergap. Sunaryo berjanji bertemu dengan Tabloid Sergap di atas jam 14.00 WIB, namun satu jam sebelumnya dia sudah mengundang para kepala sekolah itu.

Konfirmasi yang dilakukan oleh Sunaryo dengan mengumpulkan 9 Kepala SD itu, adalah jawaban dari permintaan konfirmasi secara tertulis dari Tabloid Sergap melalui surat tertanggal 31 Januari 2012, Nomor : 132.13/Sgp/I/2012, Perihal :  Konfirmasi Berita yang ditujukan kepadanya, dengan tembusan ke Kepala Dikpora Kabupaten Kediri. Dua pucuk surat itu diterima hari itu. Yang kepada PPK diterima oleh staf Dikpora yang bernama Dewi M, sedangkan tembusannya diterima oleh Bari.

Ketika Sunaryo menanyai satu per satu 9 Kepala SD itu adalah dalam rangka menjawab pertanyaan konfirmasi nomor satu, yaitu Setelah pelaksanaan rehab ruang belajar dianggap selesai, tibalah saat di mana hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh para kontraktor itu diserahterimakan kepada sekolah. Kami mendapatkan informasi relatif banyak SD-SD yang pada hakekatnya menolak untuk menerima hasil rehab ter-sebut, karena rehabnya belum selesai, misalnya pintu belum terpasang, plafon belum terpasang, cat yang hanya sekedarnya dan sebagainya. Beberapa di antaranya yang dapat kami catat adalah SDN Surat, SDN  Butuh, SDN Karangrejo II, SDN Menang, SDN Jantok II, SDN Muneng II, SDN Purwoasri I, SDN Gayam, SDN Adan-Adan. Kami yakin masih banyak lagi, karena beberapa sumber kami mengatakan ada, tapi enggan menyebutkannya. Benarkah itu?

Dalam hal SDN Muneng II, ada kesalahan mengetik surat konfirmasi. Yang benar, yang mendapatkan DAK adalah  SDN Muneng I, sehingga ibu Kepala SDN Muneng I itu terpanggil juga dan harus bersepeda motor sendirian menempuh jarak ± 15 Km lebih pulang pergi. Pada saat konfirmasi itu, Tabloid Sergap langsung minta maaf.

Pertanyaan konfirmasi kedua adalah : Sebagai contoh, ada sebuah SDN yang Kepala Sekolahnya bapak panggil memprotes tentang kayu-kayu bekas yang banyak dipakai lagi oleh kontraktor, namun plafonnya yang sebelumnya ada saat selesai direhab justru tidak dipasang. Dan bapak sebagai PPK mengatakan sebagai gantinya genteng yang dipasang mutunya lebih baik. Namun banyak pihak di sekolah yang mengatakan itu genteng biasa, bukan genteng mutu tinggi. Benarkah itu?

Dijawab oleh Sunaryo bahwa tentang mutu genteng, dia tidak pernah mengatakan seperti itu. Sedangkan tentang plafon yang sebelumnya ada, setelah direhab malah justru ruang belajar itu itu menjadi melompong tanpa plafon, Sunaryo mengatakan akan menanyakan lebih lanjut kepada kontraktor yang mengerjakannya.

Pertanyaan konfirmasi ketiga : Benar jugakah, bapak selaku PPK memaksa SD-SD untuk menandatangani berita acara serah terima hasil rehab, dengan mengatakan, “Tandatangani saja, yang bertanggungjawab saya”.

Sunaryo menjawab bahwa yang dimaksud tanggungjawab itu adalah tanggungjawab sampai dengan rehab ruang belajar itu selesai.

Pertanyaan konfirmask keempat : Dalam banyak kesempatan bapak sebagai PPK, kepada beberapa kepala sekolah yang menolak tandatangan, juga mengatakan kekurangan dalam pengerjaan rehab DAK tahun anggaran 2011 dapat nantinya diteruskan di DAK tahun anggaran 2012. Benarkah bapak mengatakan hal itu?

Sunaryo membantah telah mengatakan hal itu. “Tidak benar, sasaran DAK 2012 harus lain”, jawabnya. Dijelaskannya lebih lanjut bahwa mungkin saja sekolahnya sama, namun bangunan yang mendapatkan DAK 2012 harus bukan bangunan yang sebelumnya sudah mendapatkan DAK 2011.

Pertanyaan konfirmasi kelima : DAK Pendidikan Tahun 2011 dilaksanakan secara penunjukkan langsung dengan penanggungjawab SKPD Kabupaten/Kota, sedangkan DAK Pendidikan Tahun 2012 sesuai dengan Permendikbud Nomor 56 Tahun 2011 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2012 untuk Sekolah Dasar/Sekolah Dasar Luar Biasa, dilaksanakan dengan cara swakelola dengan penanggungjawab Satuan Pendidikan (Kepala Sekolah).  Jika benar bapak mengatakan bahwa kekurangan dalam pelaksanaan DAK 2011 dapat diselesaikan dengan DAK 2012, bukankah itu menggiring para kepala sekolah untuk bertanggungjawab terhadap pelaksanaan DAK 2011 Kabupaten Kediri yang pelaksanaannya amburadul itu? Bukankah itu sebuah pembiayaan ganda pada satu obyek pembangunan?

Sunaryo menjawab bahwa seluruh isi pertanyaan nomor lima itu tidak benar. “Tadi kan sudah saya jawab, bahwa sasarannya lain, jadi juga tidak akan terjadi pembiayaan ganda”, kata Sunaryo menegaskan.

Sebagaimana diketahui prestasi Dikpora Kabupaten Kediri dalam mengelola DAK Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2010 juga terpuruk. Hal ini telah diberitakan di mediaindonesia.com pada hari Sabtu, 28 Mei 2011 07:42 WIB. Di bawah ini kutipan beritanya :

KEDIRI–MICOM: Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur tahun 2010 sebesar Rp. 2,6 miliar tidak terserap.  Akibatnya perbaikan ratusan gedung sekolah rusak di daerah ini gagal dilakukan. Dana tersebut menjadi sisa lebih perhitungan angaran (Silpa) Kabupaten Kediri.

Pelaksana Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri Edy Purwanto menjelaskan tidak terserapnya alokasi dana pembangunan prasaranana pendidikan itu lebih karena ingin menegakkan aturan.

“Patokan pemerintah untuk membangun gedung Rp. 80 juta per lokal lebih rendah dari standar harga usulan rekanan yakni Rp100 juta per kelas,” ujar Edy. Patokan dua harga ini kata dia tidak bisa dikompromikan. Akibatnya Pemkab Kediri lebih memilih mengendapkan dana itu ke kas daerah hingga perhitungan APBD 2010.

Sementara itu, tak terpakainya alokasi dana rehab gedung sekolah ini menambah panjang dan lama daftar tunggu gedung sekolah di daerah ini yang kondisinya rusak untuk diperbaiki. Berdasarkan data yang dihimpun di Kabupaten Kediri saat ini terdapat hampir 3.000 lokal mengalami kerusakan mulai ringan hingga berat. (OL-12)

Celakanya berita mediaindonesia.com ini juga dikutip oleh website resmi Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional). Dari informasi yang berhasil dihimpun Tabloid Sergap, gara-gara ini maka, Dikpora Kabupaten Kediri yang tidak ingin mengulang lagi kisah memalukan DAK 2010, lantas menggaet seorang konsultan yang canggih.

Benarkah itu? Kalau benar, siapakah dia, apa saja peran yang diambilnya? Tabloid Sergap akan menyajikannya, jika sudah mendapatkan informasi dan data yang cukup. (Tim Sergap)

Berita terkait :

AMBURADULNYA PELAKSANAAN DAK DI KABUPATEN KEDIRI

DUGAAN KORUPSI MENYENGAT

About these ads

3 gagasan untuk “Pesta Kambing Guling Usai Proyek Amburadul

  1. A person essentially lend a hand to make seriously articles I’d state. This is the first time I frequented your website page and thus far? I surprised with the research you made to make this actual put up amazing. Excellent process!

  2. Ping-balik: DUGAAN KORUPSI MENYENGAT « TABLOID SERGAP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s